Oleh: Dr. KH. Abubakar Sidik, M. Ag
Santri adalah sebutan untuk kelompok masyarakat yang teguh memegang tradisi keagamaan berbasis keilmuan yang sanad dan ketersambungannya terkait secara berurut hingga ke Rasulullah.
Bentuk keberagamaan kaum santri terlihat mesra dan berangkulan dengan tradisi masyarakat tanpa harus mengabaikan ketentuan-ketentuan syariat. Kaum santri mampu menerapkan syariat dalam wujud perilaku keseharian yang bersahabat, toleran, moderat, dan harmoni.
Dalam lingkungan sosiologis dan kemasyarakatan, santri memperlihatkan kehidupan yang sederhana dan tidak menyakiti psikologi masyarakat yang belum beruntung secara ekonomi. Inti dari sikap santri ini adalah kemandirian sebagai wujud ketawakkalan kepada Allah SWT.
Dalam hal produktivitas, santri amat menjunjung tinggi pada rukun agama ketiga, yaitu ihsan, yang berkaitan dengan perwujudan akhlak kepada Allah SWT. Dengan ihsan, santri bergerak profesional. Bagi santri sangat menekankan pada pentingnya bergerak dan terus berikhtiar, sesuai dengan ajaran Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan, santri berikhtiar lewat tasawuf dan thariqat. Selain makhluk jasmani, manusia adalah makhluk rohani yang juga harus dikelola dengan baik. Mengelola jasmani saja justru akan mengurangi nilai kemanusiaan manusia.
Santri merupakan kelompok yang tiada henti mencari tambahan pengetahuan dan informasi melalui mengaji. Mengaji bagi santri dilakukan tiada henti. Ngaji harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan yang biasanya pada bulan Ramadhan. Untuk itu, santri menyediakan lembaga khusus mulai dari pesantren, madrasah, dan majelis taklim.
Selamat Hari Santri. Menjadi santri membela negeri, mengisi hidup duniawi untuk kehidupan ukhrawi. (*).












