JURNALSUKABUMI.COM – Menanamkan kedisiplinan kepada pelajar tidak selalu harus dilakukan dengan cara keras. Di SMKS Jamiyatul Aulad, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, aturan sekolah justru disampaikan dengan pendekatan yang ramah dan edukatif.
Salah satunya terlihat ketika para pelajar diarahkan untuk memahami kembali pentingnya menjaga kerapian diri, termasuk persoalan rambut yang menjadi bagian dari tata tertib sekolah.
Kepala SMKS Jamiyatul Aulad, Andriyana, mengatakan penegakan disiplin di lingkungan sekolah perlu dilakukan dengan cara yang tetap membuat siswa merasa dihargai. Menurutnya, aturan bukan semata-mata untuk memberikan hukuman, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Dalam pelaksanaannya, para pelajar dikumpulkan untuk diberikan pengarahan dan pemahaman mengenai kedisiplinan. Setelah mendapatkan penjelasan, siswa yang rambutnya dinilai belum sesuai dengan ketentuan sekolah langsung diarahkan untuk merapikannya.
Menariknya, sekolah tidak sekadar meminta siswa pulang atau mencari tempat cukur sendiri. Tukang cukur rambut didatangkan langsung ke lingkungan sekolah sehingga para pelajar dapat merapikan rambut dengan tertib.
Proses cukur dilakukan di area panggung kreasi yang berada di lingkungan sekolah. Satu per satu siswa duduk dan merapikan rambutnya, sementara siswa lainnya menunggu giliran dengan tertib.
Andriyana menilai pendekatan seperti ini menjadi cara sekolah menyampaikan pesan bahwa disiplin tidak perlu selalu identik dengan ketegangan.
“Yang kami bangun adalah kesadaran. Anak-anak perlu memahami bahwa tampil rapi dan mengikuti aturan merupakan bagian dari sikap disiplin,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga membentuk kebiasaan dan karakter peserta didik.
Karena itu, setiap aturan diupayakan disampaikan dengan komunikasi yang baik. Siswa diberikan pemahaman mengenai alasan di balik sebuah aturan sehingga mereka tidak sekadar menurut karena takut mendapat sanksi.
“Harapannya anak-anak bisa memahami bahwa aturan dibuat untuk kebaikan mereka. Jadi disiplin itu tumbuh dari kesadaran, bukan karena merasa tertekan,” katanya.
Suasana cukur pun berlangsung tertib. Para pelajar tampak mengikuti proses tersebut secara bergantian hingga rambut mereka terlihat lebih rapi dan segar.
Bagi SMKS Jamiyatul Aulad, langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter sehari-hari.
“Sekolah ingin membiasakan siswa memahami bahwa kerapian, tanggung jawab dan kedisiplinan merupakan sikap yang akan mereka bawa, bukan hanya selama berada di sekolah, tetapi juga ketika terjun ke masyarakat dan dunia kerja,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











