JURNALSUKABUMI.COM – Kebakaran yang melanda Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya menghanguskan rumah warga. Musibah tersebut juga berdampak besar terhadap sistem ketahanan pangan adat yang selama ini dijaga melalui leuit atau lumbung padi.
Sebanyak 49 lumbung padi tercatat terdampak akibat kebakaran hebat yang terjadi beberapa waktu lalu. Padahal, leuit tersebut menjadi tempat penyimpanan cadangan pangan masyarakat adat yang telah dipersiapkan untuk kebutuhan jangka panjang.
Ketua Panitia Logistik Bencana Ciptamulya, Edik Supriatna, mengatakan setiap leuit memiliki jumlah simpanan padi yang cukup besar. Dalam satu lumbung, rata-rata tersimpan antara 800 hingga 2.000 ikat padi.
“Yang terdampak kebakaran ada 49 lumbung. Rata-rata satu lumbung terisi dari 800 ikat sampai 2.000 ikat,” ujar Edik, Senin (27/7/2026).
Dari hasil pendataan sementara, sekitar 60 persen cadangan padi di dalam leuit mengalami kerusakan akibat kebakaran. Namun, sebagian stok masih berhasil diselamatkan oleh masyarakat sebelum api meluas.
“Kurang lebih 60 persen yang terbakar. Yang sisanya alhamdulillah tertolong oleh masyarakat dan masih bisa dikonsumsi maupun dikumpulkan untuk stok,” katanya.
Menurut Edik, jumlah leuit yang terdampak memiliki peran besar terhadap keberlangsungan pangan masyarakat Ciptamulya. Sebelum kebakaran, cadangan padi yang tersimpan diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 10 sampai 20 tahun ke depan.
“Ada 49 lumbung atau leuit, kurang lebih stok pangan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan,” jelasnya.
Namun setelah sebagian besar lumbung terdampak kebakaran, cadangan pangan tersebut otomatis mengalami pengurangan. Stok yang sebelumnya diproyeksikan bertahan hingga puluhan tahun kini diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan dalam beberapa tahun ke depan.
“Iya, bisa terkikis,” kata Edik saat ditanya mengenai dampak terhadap ketahanan pangan masyarakat.
Ia memperkirakan stok padi yang berhasil diselamatkan saat ini masih dapat menjadi cadangan pangan sekitar lima tahun ke depan.
“Yang tersisa mudah-mudahan sampai lima tahun lebih, kurang lebih buat stok pangan yang ada yang sisa,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











