Refleksi Mendalam Idul Adha, Heri Gunawan: Haji dan Qurban adalah Momentum Meruntuhkan ‘Berhala’ Ego Modernitas

Senin, 25 Mei 2026 - 23:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 H menjadi momentum krusial bagi umat Muslim untuk melakukan jeda spiritual di tengah derasnya arus modernisasi. Di tengah kehidupan yang serbacepat, instan, dan menuntut pengakuan, esensi ibadah haji, keagungan Hari Arafah, serta manifestasi qurban hadir sebagai medium refleksi untuk menata ulang arah hidup manusia agar kembali pada khitah penghambaan yang tulus.

Hal tersebut ditegaskan secara komprehensif oleh Anggota DPR RI, Heri Gunawan. Tokoh legislator Senayan yang juga mengemban amanah sebagai Ketua DPP Partai Gerindra dan Penasihat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi Raya ini menyampaikan pandangan filosofisnya mengenai esensi terdalam dari ritual tahunan tersebut.

Menurut pria yang akrab disapa Hergun ini, problem terbesar manusia modern saat ini acap kali bukan karena kehilangan Tuhan, melainkan karena kecenderungan menempatkan ego pribadi di atas segalanya.

“Manusia modern kerap terjebak dalam ilusi bahwa mereka bisa menentukan dan menguasai segalanya. Ingin selalu dipuji, diikuti, dan dijadikan pusat dari dunianya sendiri. Tanpa disadari, ego atau self-centeredness ini perlahan berubah menjadi ‘berhala’ baru yang merusak tatanan kemanusiaan,” ujar Heri Gunawan dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/05/2026).

Oleh karena itu, Hergun menilai Idul Adha selalu datang membawa pelajaran yang keras sekaligus menenangkan: bahwa manusia tidak akan pernah utuh sebelum ia belajar menjadi hamba yang sebenar-benarnya.

“Bukan menjadi hamba bagi sesama manusia, hamba kekuasaan, materi, ataupun popularitas. Melainkan murni sebagai hamba Allah SWT,” tegasnya.

1. Filosofi Haji: Dekonstruksi Identitas Duniawi

Lebih lanjut, Anggota DPR RI tiga periode ini menguraikan makna mendalam dari setiap fase ibadah haji yang tengah berlangsung di Tanah Suci. Haji, menurutnya, bukan sekadar perjalanan fisik atau wisata religi, melainkan sebuah proses dekonstruksi dan pembongkaran total terhadap identitas duniawi manusia.

• Pakaian Ihram sebagai Penyetara: Sejak pertama mengenakan kain ihram, manusia dipaksa melepaskan segala atribut kebesaran. “Tidak ada lagi tanda kemewahan yang berarti. Tidak ada pakaian kebesaran jabatan, tidak ada simbol kelas sosial atau sekat ekonomi. Semua sama di hadapan Pencipta,” kata Penasihat SMSI Sukabumi Raya itu.

• Makna Spiritual Talbiyah: Kalimat Talbiyah yang dikumandangkan (Labbaikallahumma labbaik…) menurut Hergun adalah sebuah pengakuan jujur yang menghancurkan kesombongan. Manusia berserah diri bukan karena merasa hebat, suci, atau pantas, melainkan semata-mata karena memenuhi panggilan Tuhan. Kalimat ini mematahkan klaim atas harta, kuasa, dan prestasi yang sering kali hilang hanya dengan satu cobaan sakit atau kehilangan.

2. Thawaf dan Sa’i: Menata Ulang Pusat Kehidupan

Dalam analisis spiritualnya, Ketua DPP Partai Gerindra ini juga menyoroti gerakan Thawaf dan Sa’i sebagai refleksi sosiologis-religius yang sangat kuat.

• Thawaf (Poros Gravitasi Hidup): Tujuh putaran mengelilingi Ka’bah mengajarkan bahwa hidup manusia sering kali berputar pada poros yang salah—baik itu uang, ambisi kekuasaan, maupun pujian semu—hingga kehilangan nurani dan keluarga. Gerakan Thawaf yang terus mengalir melambangkan bahwa di tengah dunia yang terus berubah dinamis, manusia membutuhkan satu pusat gravitasi yang konstan dan tidak berubah, yaitu Tuhan.

• Sa’i (Ikhtiar dan Tawakal): Sementara itu, napak tilas Siti Hajar dalam Sa’i antara Shafa dan Marwah memperlihatkan bentuk penghambaan yang aktif. “Hajar mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti diam menunggu mukjizat. Tawakal adalah keberanian untuk terus berjalan dan berikhtiar di tengah ketidakpastian, memeras kesungguhan hingga akhirnya mengalirkan mata air Zamzam yang menghidupi peradaban,” tambahnya.

3. Puncak Kejujuran di Arafah: 7 Keutamaan yang Agung

Heri Gunawan menambahkan, puncak dari ibadah haji adalah Wukuf di Arafah. Di sinilah haji mencapai tingkat kejujuran tertingginya, di mana jutaan manusia berhenti dari hiruk-pikuk ego sektoral dan berdiri telanjang secara spiritual di hadapan Allah tanpa sekat citra sosial (social branding).

Secara khusus, Hergun mengupas tuntas betapa sakral dan agungnya Hari Arafah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah, yang mengandung keutamaan luar biasa bagi umat Islam:

• Hari Disempurnakannya Agama Islam: Hari Arafah adalah hari mulia diturunkannya firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah ayat 3: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” Ayat ini turun pada hari Arafah ketika Nabi ﷺ sedang melaksanakan haji wada’.

• Hari yang Allah Bersumpah Dengannya: Keagungan hari ini diabadikan dalam QS. Al-Buruj ayat 3: “Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” Sebagian ulama menafsirkan bahwa “hari yang disaksikan” adalah hari Arafah, karena melimpahnya manusia dan malaikat yang menghadirinya.

• Hari Pengampunan Dosa dan Pembebasan dari Neraka: Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibanding hari Arafah. “Sungguh Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat,” (HR. Muslim).

• Doa Hari Arafah adalah Doa Paling Utama: Doa pada hari ini memiliki derajat tertinggi di hadapan Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah,” (HR. Tirmidzi).

• Puasa Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun: Bagi umat Muslim yang menunaikan puasa di hari ini, Rasulullah ﷺ menegaskan, “Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya,” (HR. Muslim).

• Anjuran Puasa Khusus bagi yang Tidak Berhaji: Hergun memberikan catatan edukatif bahwa puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak sedang berhaji. Adapun jemaah haji yang sedang wukuf tidak disunnahkan berpuasa agar kuat dalam beribadah. Hal ini bersandar pada riwayat Ummul Fadhl RA: “Bahwa Nabi ﷺ tidak berpuasa pada hari Arafah ketika berada di Arafah,” (HR. Bukhari dan Muslim).

• Hari yang Paling Dicintai Allah untuk Beramal Shalih: Hari Arafah merupakan bagian dari 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, di mana Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,” (HR. Bukhari).

Di tengah keheningan Wukuf, kalimat doa yang digaungkan menjadi deklarasi pembebasan (liberation): Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah. Lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.

“Melalui kalimat lahul mulku, kita meruntuhkan keangkuhan kekuasaan. Melalui lahul hamdu, kita mengikis kerakusan terhadap validasi manusia. Dan melalui wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, kita menghancurkan ilusi bahwa diri kita adalah faktor penentu segalanya. Arafah adalah tempat runtuhnya kesombongan manusia,” jabar Hergun secara rinci.

4. Melontar Jumrah: Perang Abadi Melawan Ego Internal

Setelah fase Arafah, ritual melempar Jumrah di Mina dikupas Hergun sebagai simbol peperangan batiniah. Batu-batu kecil yang dilemparkan bukan sekadar ritual fisik, melainkan simbol perlawanan terhadap ego dan tipu daya batin yang kerap bersembunyi di balik jubah-jubah kemuliaan.

“Ego dan godaan buruk tidak selalu datang dalam bentuk kemaksiatan yang nyata. Kadang ia menyusup dalam bentuk kesombongan ilmu, kesalehan yang merasa paling suci, kekayaan yang melupakan hak kaum dhuafa, atau bahkan ibadah yang diam-diam melahirkan rasa lebih tinggi dari orang lain. Perang melawan ego di dalam diri ini adalah perang seumur hidup yang tidak selesai hanya dalam musim haji,” jelas legislator asal Sukabumi tersebut.

5. Esensi Qurban: Menyembelih Ketamakan untuk Kemerdekaan Sejati

Sebagai penutup dari refleksinya, legislator Senayan ini menekankan bahwa ibadah Qurban yang menyertai Hari Raya Idul Adha memiliki pesan horizontal dan vertikal yang sangat kuat, terutama bagi umat yang belum berkesempatan berangkat ke Tanah Suci.

Nilai substansial dari ibadah qurban bukanlah terletak pada kuantitas atau jenis hewan yang disembelih, melainkan pada kesediaan manusia untuk “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan, ketamakan, dan keterikatan berlebihan terhadap materi duniawi.

“Darah qurban pada akhirnnya akan kering dan menyerap ke tanah, dagingnya pun akan habis didistribusikan kepada yang berhak. Namun, esensi dan nilai penghambaan harus tetap hidup dan terinternalisasi dalam perilaku sosial kita sehari-hari jauh setelah gema takbir selesai dikumandangkan,” pungkas Hergun.

Melalui momentum Idul Adha 1447 H ini, Heri Gunawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memerdekakan diri dari perbudakan materi dan ego sentris. Sembari memanjatkan doa: “Semoga Allah menerima amal ibadah kita di hari Arafah dan memberikan ampunan serta rahmat-Nya. Aamiin,” tutupnya.

Redaktur: Ujang Herlan 

Berita Terkait

Bupati Sukabumi Resmikan Masjid Jami Nurul Huda, Siap Bantu Lengkapi Sarana Pendukung
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Hadiri Pelepasan 62 Calon Jemaah Haji Kloter 13
Bupati Sukabumi Asep Japar Lepas Jemaah Haji Kloter 13, Titip Doa untuk Kemajuan Kabupaten Sukabumi
Wabup Andreas di Hari Raya Idulfitri 1447 H: Mari Rawat Harmoni dan Rajut Simpul Persaudaraan
Gema Takbir Berkumandang, Bupati Kang Asjap Ajak Warga Sukabumi Jemput Keberkahan di Hari Fitri 
Hergun Ajak Umat Kejar Keberkahan Lailatul Qadar di Ramadan 1447 H
Muhibah Ramadan di Simpenan, Wabup: Aspirasi Masyarakat Kami Jadikan Muhasabah Pembangunan 
Muhibah Ramadan, Pemkab Sukabumi Hadirkan Bantuan Nyata untuk Masyarakat

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:10 WIB

Refleksi Mendalam Idul Adha, Heri Gunawan: Haji dan Qurban adalah Momentum Meruntuhkan ‘Berhala’ Ego Modernitas

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:32 WIB

Bupati Sukabumi Resmikan Masjid Jami Nurul Huda, Siap Bantu Lengkapi Sarana Pendukung

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:23 WIB

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Hadiri Pelepasan 62 Calon Jemaah Haji Kloter 13

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:31 WIB

Bupati Sukabumi Asep Japar Lepas Jemaah Haji Kloter 13, Titip Doa untuk Kemajuan Kabupaten Sukabumi

Jumat, 20 Maret 2026 - 22:34 WIB

Wabup Andreas di Hari Raya Idulfitri 1447 H: Mari Rawat Harmoni dan Rajut Simpul Persaudaraan

Berita Terbaru