JURNALSUKABUMI.COM – Kasus meninggalnya NS (12), bocah asal Kabupaten Sukabumi, menguak potret kelam kekerasan dalam rumah tangga yang luput dari pengawasan hingga berujung maut.
Fakta-fakta baru yang disampaikan aparat kepolisian memperlihatkan bahwa tragedi ini bukan peristiwa seketika, melainkan rangkaian kekerasan yang terjadi dalam rentang waktu krusial.
Dalam pemaparan di hadapan Komisi III DPR RI, Kapolres Sukabumi AKBP Samian menjelaskan bahwa penyidik menaruh perhatian serius pada jeda waktu sejak korban terakhir terlihat sehat hingga ditemukan dalam kondisi kritis.
Sore hari sebelum kejadian menjadi titik awal penting. Seorang saksi yang berprofesi sebagai tukang pijat menyebut, pada pukul 17.50 WIB korban masih beraktivitas normal tanpa tanda kekerasan. Kesaksian ini menjadi patokan awal penyidik dalam menyusun kronologi.
Namun setelah itu, NS berada sepenuhnya di lingkungan rumah tanpa pengawasan pihak luar. Dalam kurun waktu kurang dari lima jam, kondisi anak tersebut berubah drastis. Saat paman korban datang sekitar pukul 22.00 WIB, tubuh NS sudah dipenuhi lebam dan tanda-tanda kekerasan serius.
Ayah kandung korban yang bekerja di luar rumah baru mengetahui kondisi memilukan tersebut saat tiba dini hari. Ironisnya, penanganan medis baru dilakukan keesokan paginya, ketika korban dibawa ke RSUD Jampangkulon sekitar pukul 08.00 WIB.
Menurut Samian, fokus penyidikan mengarah pada rentang waktu antara pukul 18.35 hingga 22.00 WIB. Pada fase inilah, penyidik meyakini kekerasan berat terjadi.
“Ketika saksi terakhir melihat korban, kondisinya masih normal. Namun saat keluarga lain datang beberapa jam kemudian, korban sudah dalam keadaan penuh luka. Ini yang menjadi titik krusial dalam pembuktian,” ujarnya dalam rapat yang disiarkan TV Parlemen, Senin (2/3/2026).
Hasil pemeriksaan medis menguatkan kesimpulan penyidik. Dokter menemukan lebam di sejumlah bagian tubuh korban yang diduga berasal dari trauma panas dan benturan benda tumpul. Temuan ini menegaskan bahwa kematian NS bukan disebabkan faktor alamiah, melainkan akibat kekerasan fisik yang berulang.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, ditemukan luka lebam pada tubuh korban yang diduga kuat disebabkan oleh trauma panas dan trauma benda tumpul. Terdapat indikasi trauma lain yang menguatkan dugaan bahwa kematian korban NS merupakan akibat dari kekerasan tidak wajar,” jelas Samian.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

















