Analisis Yuridis Terhadap Pengguna Vape Mengandung Etomidate dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia

Rabu, 17 Desember 2025 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dr. Padlilah, S.H., M.H. (Praktisi Hukum)

ABSTRAK

Perkembangan teknologi rokok elektrik (vape) telah melahirkan modus baru dalam penyalahgunaan zat, salah satunya penggunaan cairan vape yang mengandung Etomidate. Etomidate pada awalnya merupakan obat anestesi yang digunakan dalam dunia medis, namun kemudian ditetapkan sebagai narkotika melalui regulasi pemerintah. Fenomena ini menimbulkan persoalan hukum, khususnya terkait pertanggungjawaban pidana terhadap pengguna vape Etomidate.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hukum pengguna vape yang mengandung Etomidate dalam perspektif hukum pidana Indonesia, serta menentukan pendekatan hukum yang tepat antara pemidanaan dan rehabilitasi.

Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna vape Etomidate pada prinsipnya dapat dikenakan Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, namun dengan kewajiban bagi aparat penegak hukum dan hakim untuk mengutamakan rehabilitasi sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010. Kata Kunci: Etomidate, Vape, Penyalahguna Narkotika, Rehabilitasi, Hukum Pidana.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyalahgunaan narkotika di Indonesia terus mengalami dinamika seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Salah satu fenomena yang muncul belakangan ini adalah penggunaan rokok elektrik (vape) sebagai media konsumsi zat psikoaktif, termasuk Etomidate.

Etomidate yang semula dikenal sebagai obat anestesi dalam dunia medis, belakangan disalahgunakan dalam bentuk cairan vape karena efek sedatif yang ditimbulkannya. Masuknya Etomidate ke dalam golongan narkotika menimbulkan persoalan hukum baru, khususnya terkait status dan pertanggungjawaban pidana bagi pengguna vape Etomidate.

Di satu sisi, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika bersifat represif terhadap peredaran narkotika, namun di sisi lain juga menempatkan penyalahguna sebagai subjek yang wajib direhabilitasi. Kondisi ini menuntut analisis hukum yang komprehensif agar penegakan hukum tidak menyimpang dari tujuan keadilan dan kemanusiaan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kedudukan hukum Etomidate dalam sistem hukum narkotika di Indonesia?

2. Bagaimana pertanggungjawaban pidana pengguna vape yang mengandung Etomidate?

3. Bagaimana penerapan rehabilitasi terhadap pengguna vape Etomidate dalam praktik peradilan pidana?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis kedudukan Etomidate sebagai narkotika dalam hukum positif Indonesia.

2. Menjelaskan konstruksi pertanggungjawaban pidana pengguna vape Etomidate.

3. Mengkaji urgensi rehabilitasi sebagai pendekatan utama bagi pengguna vape

Etomidate.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundangundangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan kasus (case approach). Bahan hukum primer meliputi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, serta Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010. Bahan hukum sekunder berupa literatur hukum, jurnal ilmiah, dan pendapat para ahli.

III. PEMBAHASAN

A. Kedudukan Etomidate dalam Sistem Hukum Narkotika

Etomidate pada awalnya tidak termasuk dalam golongan narkotika sebagaimana tercantum dalam lampiran Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Oleh karena itu, penyalahgunaan Etomidate sebelum ditetapkan sebagai narkotika tidak dapat dikenakan ketentuan pidana dalam UU Narkotika berdasarkan asas legalitas (nullum crimen sine lege). Setelah ditetapkan masuk dalam golongan narkotika melalui peraturan menteri kesehatan, Etomidate secara sah menjadi objek pengaturan dan sanksi dalam rezim hukum narkotika.

B. Pertanggungjawaban Pidana Pengguna Vape Etomidate

Pengguna vape Etomidate yang menggunakan zat tersebut untuk diri sendiri pada dasarnya dikualifikasikan sebagai penyalahguna narkotika. Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur bahwa penyalahguna narkotika dapat dipidana, namun hakim wajib memperhatikan ketentuan rehabilitasi sebagaimana diatur dalam Pasal 54 dan Pasal 103 UU Narkotika. Dengan demikian, pengguna vape Etomidate tidak dapat serta-merta diperlakukan sebagai pelaku kejahatan narkotika berat.

C. Rehabilitasi sebagai Pendekatan Utama bagi Pengguna.

Pendekatan rehabilitatif terhadap penyalahguna narkotika merupakan amanat langsung dari undang-undang. Pasal 54 UU Narkotika menegaskan bahwa pecandu dan penyalahguna narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010 semakin memperkuat kebijakan ini dengan menempatkan pengguna narkotika sebagai korban yang memerlukan perawatan, bukan semata-mata penghukuman. Dalam konteks pengguna vape Etomidate, rehabilitasi menjadi solusi hukum yang paling tepat dan proporsional.

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Etomidate merupakan zat yang secara hukum baru dapat diperlakukan sebagai narkotika setelah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

2. Pengguna vape Etomidate pada prinsipnya dapat dikenakan Pasal 127 UU Narkotika, namun dengan kewajiban mengutamakan rehabilitasi.

3. Rehabilitasi merupakan pendekatan hukum yang paling sesuai dengan tujuan hukum pidana modern dan perlindungan hak asasi manusia.

B. Saran

Aparat penegak hukum diharapkan lebih konsisten menerapkan pendekatan rehabilitatif terhadap pengguna vape Etomidate. Selain itu, diperlukan sosialisasi hukum yang masif kepada masyarakat terkait bahaya dan konsekuensi hukum penggunaan zat terlarang melalui media vape.

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Indonesia. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010. (*).

Berita Terkait

Disclaimer! Pergeseran Gaya Hidup Modern: Antara Kemudahan Teknologi dan Meredupnya Nilai Tradisional
Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai Sumber Legitimasi Hukum Nasional: Kajian Filsafat Hukum dan Teori Kedaulatan
Di Mata Akademisi, Sosok Yandra Utama Pemuda Berani
Gizi Rakyat atau Gizi Oligarki?
Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi
Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak
Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa
Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 14:27 WIB

Disclaimer! Pergeseran Gaya Hidup Modern: Antara Kemudahan Teknologi dan Meredupnya Nilai Tradisional

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:25 WIB

Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai Sumber Legitimasi Hukum Nasional: Kajian Filsafat Hukum dan Teori Kedaulatan

Minggu, 28 Juni 2026 - 20:46 WIB

Di Mata Akademisi, Sosok Yandra Utama Pemuda Berani

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:29 WIB

Gizi Rakyat atau Gizi Oligarki?

Senin, 1 Juni 2026 - 11:52 WIB

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi

Berita Terbaru

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam