Warga Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal Datangi PT Star Energy, Ada Apa? 

Senin, 22 September 2025 - 17:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Puluhan perwakilan warga dari Kecamatan Kabandungan dan Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, merasa resah menyusul rentetan gempa bumi yang terjadi pada Minggu (21/09/2025) lalu.

Guncangan gempa yang dirasakan berkali-kali ini menimbulkan dugaan di kalangan masyarakat bahwa gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas pengeboran panas bumi yang dilakukan oleh PT Star Energy Geothermal Salak.

​Iwan Rustandi, seorang perwakilan warga dari Desa Kabandungan, mengungkapkan keresahan ini dalam pertemuan dengan pihak perusahaan. “Kami sangat resah di bawah karena ada kecurigaan, apalagi melihat informasi BMKG yang keluar bahwa titik koordinatnya berada di Gunung Salak,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (22/09/2025).

​Ia menambahkan, trauma akibat gempa tahun 2020 yang merusak banyak rumah warga masih membekas. “Ketika ada gempa, yang skalanya 3,5 saja, itu sudah membuat trauma keluarga kami. Rumah kami pecah-pecah, bahkan di daerah Cipeuteuy ada beberapa rumah yang roboh,” tuturnya.

​Atas dasar itulah, sekitar 20 orang perwakilan warga dari dua kecamatan mendatangi kantor PT Star Energy untuk meminta penjelasan. Iwan menyatakan, mereka telah membuat fakta integritas dan meminta jawaban yang jelas dalam waktu maksimal tujuh hari. Jika tidak ada tanggapan memuaskan, mereka mengancam akan kembali datang dengan massa yang lebih besar.

​”Kami hadir sebenarnya tidak puas. Tolong hadirkan BMKG dan ahli-ahli yang lainnya berhadapan langsung dengan kami,” tegas Iwan, menuntut transparansi dari pihak perusahaan.

Ia merasa jawaban dari perusahaan cenderung membela diri, dan menganggap PT Star Energy abai terhadap masyarakat dan lingkungan.

Tanggapan PT Star Energy: Gempa Disebabkan Sesar Aktif

​Menanggapi keresahan warga, Humas PT Star Energy Geothermal Salak, Asrul Maulana, menyampaikan keprihatinan perusahaan. Ia menjelaskan bahwa pihak perusahaan merujuk pada rilis resmi dari BMKG yang menyatakan gempa disebabkan oleh sesar aktif Citarik.

​”Ini kejadian-kejadian secara alami. Sesar aktif itu kan membentang dari Palabuhan Ratu sampai ke Bekasi. Kami tidak punya kemampuan untuk menggoyang bumi yang jutaan ton,” kata Asrul

​Ia juga menegaskan bahwa operasional perusahaan telah sesuai dengan disiplin ilmu dan aturan ketat, termasuk pengawasan dari inspektor EBTKE Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), dan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang diperbarui secara berkala.

Asrul menambahkan, aktivitas pengeboran saat ini di daerah Ciasmara, Bogor, memiliki jarak sekitar 9 kilometer dari lokasi gempa yang dirasakan warga.

​Asrul memahami bahwa warga tidak puas, namun ia menyebutnya sebagai hal yang wajar dalam sebuah diskusi. Pihak perusahaan sedang berupaya mengumpulkan data terkait kerugian yang dialami masyarakat dan akan menyampaikan permintaan warga kepada manajemen untuk menghadirkan ahli dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan ESDM.

​”Kami diminta tujuh hari, tujuh hari untuk memastikan penelitian. Yang melakukan penelitian itu kan pemerintah, bukan kami,” ujar Asrul.

Namun, ia berjanji akan mengupayakan pertemuan dengan pihak BMKG secara langsung agar masyarakat mendapatkan penjelasan yang lebih memuaskan.

​Senada dengan Asrul, Hendri Kurniawan dari Support Service PT Star Energy, menambahkan bahwa daerah tersebut memang berada di bawah sesar aktif dan gempa juga pernah terjadi pada tahun 2021, saat tidak ada aktivitas pengeboran.

​”Pada saat ini memang ada drilling. Secara kebetulan ada,” jelas Hendri.

Ia berharap masyarakat dapat merujuk pada data resmi BMKG dan memahami bahwa informasi yang beredar di media sosial belum tentu akurat.

​Meskipun demikian, ia mengakui perlunya sosialisasi yang lebih baik agar informasi seperti ini dapat diterima dengan jelas oleh masyarakat luas. Ia juga menambahkan, dokumen publik terkait AMDAL dapat diakses oleh masyarakat melalui pemerintah.

 

Reporter: Ifan | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

17 Tahun Irigasi Mati, Dinas PU Dinilai Gagal Menyelamatkan Pertanian di Cikadu Sukabumi 
Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bersama Hergun, 48 Pemenang Terima Hadiah
Memasuki Musim Kemarau, Petani Sukabumi Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Menyelamatkan Panen
17 Tahun Irigasi Terbengkalai, Sawah Hilang, Warga Cikadu Gali Sumur di Bekas Saluran Air Demi Bertahan Hidup
Keluhan Buruh soal BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi, Zainul Munasichin Janji Tindak Lanjut di DPR RI
Resmi Dilantik, Kang Sule Kembali Pimpin SMSI Sukabumi Raya 2025–2028
Parah! Antrean Truk di SPBU Cibadak Kuasai Bahu Jalan, Pengendara Premium Terjebak
Dihantam Botol dan Batu Gegara Uang, Misteri Kerangka di Hutan Jati Sagaranten Akhirnya Terpecahkan

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 21:23 WIB

17 Tahun Irigasi Mati, Dinas PU Dinilai Gagal Menyelamatkan Pertanian di Cikadu Sukabumi 

Senin, 20 Juli 2026 - 18:39 WIB

Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bersama Hergun, 48 Pemenang Terima Hadiah

Senin, 20 Juli 2026 - 15:54 WIB

Memasuki Musim Kemarau, Petani Sukabumi Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Menyelamatkan Panen

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:08 WIB

17 Tahun Irigasi Terbengkalai, Sawah Hilang, Warga Cikadu Gali Sumur di Bekas Saluran Air Demi Bertahan Hidup

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:59 WIB

Keluhan Buruh soal BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi, Zainul Munasichin Janji Tindak Lanjut di DPR RI

Berita Terbaru