JURNALSUKABUMI.COM – Putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep digadang-gadang menjadi salah satu sosok kandidat yang diminta untuk meramaikan bursa Pilkada 2024 di Kabupaten Sukabumi.
Beragam komentar pun kian bermunculan antara ‘setuju’ dan ‘tidak’ dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk tokoh politik, akademisi, pemuda hingga aktivis.
Merespons hal itu, Ketua Aktivis Muda Sukabumi (AMUSI) Sukabumi, Ronal Saepul mengatakan tidak setuju dengan kabar tersebut dengan menjelaskan berbagai alasan.

“Alasan pertama, impian masyarakat tidak lain memiliki calon pemimpin yang mengenal betul akan kultur dan budaya Sukabumi. Termasuk PR yang belum dituntaskan selama ini,” tegasnya, Minggu (02/06/2024).
Ronal pun meyakini, sosok Ketua Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini belum tepat untuk masuk di Bursa Pilkada 2024.
“Nah barometer kultur dan budaya ini akan berdampak terhadap simbol-simbol politik. Jika hal itu terjadi, tentu sebuah kekurangan bagi Kaesang di Sukabumi,” jelasnya.
Kedua lanjut dia, akan berpengaruh terhadap demokrasi di negeri ini. Dikhawatirkan mengokohkan politik dinasti, yaitu politik berbau nepotisme yang mengangkat keluarga terdekat untuk memegang jabatan politik di dalam pemerintahan.
“Jadi hemat saya, Kaesang dinilai tidak cocok memimpin Sukabumi,” ucapnya.
Terlebih, wilayah Kabupaten Sukabumi merupakan kabupaten terluas di Jawa Barat, yaitu 14.873,55 km². Kendati, sosok Kaesang dikenal sebagai sosok muda yang kreatif dan inovatif, akan tetapi belum tentu bisa membawa angin segar untuk memajukan Sukabumi.
“Intinya, kita sependapat bahwa Pilkada 2024 nanti harus diraih oleh sosok pemimpin yang bakal memajukan Kabupaten Sukabumi ke depan,” tandasnya.
Redaktur: Ujang Herlan












