JURNALSUKABUMI.COM – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Hj. Yani Jatnika Marwan turut menyoroti maraknya kasus tawuran pelajar yang terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi.
Istri dari Bupati Sukabumi ini, menilai bahwa kasus kenakalan remaja ini, bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi saja, tetapi harus menjadi perhatian semua pihak. Salah satunya, peranan dari orangtua siswa.
“Iya, itu betul peranan dari orangtua. Karena, gini hampir semua kasus itu dilakukan atau korbannya itu di usia anak. Si anak mau itu di tingkat PAUD, SD maupun SMP,” kata Hj Yani dalam keterangannya, pada Kamis (15/02/2024).
Selain kurangnya pengawasan orangtua, sambung Hj Yani, terdapat beberapa faktor lainnya yang menjadi pemicu kalangan pelajar berani melakukan penganiayaan pada kasus tawuran pelajar tersebut. Diantaranya, karena pengaruh minuman keras (miras).
“Iya, mungkin mereka berani itu mungkin ada unsur minuman keras atau apa gtu ya, sehingga mereka menjadi berani seperti itu,” jelasnya.
Ketika disinggung mengenai upaya preventif dalam mengantisipasi kasus tawuran pelajar. Yani menjelaskan, bahwa P2TP2A Kabupaten Sukabumi, kerap menggelar berbagai pelatihan dan memanggil orang tua siswa bersama pihak sekolah beserta anak-anak sekolah yang dinilai nakal, untuk dilakukan pembinaan.
“Jadi, dihadirkan anak-anak yang dari sekolah yang memang sering melakukan tawuran atau bullying, itu dikumpulkan anak-anaknya,” ungkapnya.
“Bahkan kami sudah mengumpulkan juga guru BK, sudah kami lakukan itu, tapi gak tau kami kecolongan lagi. Gak tau ya itu harus bagaimana, kalau anak-anak ko bisa se jahat itu, jadinya kriminal seperti itu malah anak-anak SMP seperti itu,” sambung dia.
Pihaknya mengaku, sudah semaksimal mungkin melakukan upaya deteksi dini agar kasua tawuran pelajar tidak kembali terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi.
“Iya, waktu guru-guru dan anak-anak itu, kita panggil, dan menggelar berbagai ragam kegiatan supaya mereka enjoy. Kan memang mereka kadang-kadang kehilangan jati diri. Maka kami datangkan psikolog-nya dan kita ajak main bersama supaya outbound,” terang dia.
Pada saat melakukan kegiatan, mayoritas anak-anak tersebut memahami akan materi yang disampaikan. Namun, ironisnya kasus tawuran masih saja terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi. Bahkan, baru-baru ini dikabarkan seorang siswa SMP di wilayah Kecamatan Gunungguruh, dikabarkan meninggal dunia setelah terlibat duel ala gladiator.
“Sebenarnya di program PKK itu ada Paradi Cekas atau pola asuh anak remaja di era digital cegah kekerasan. Nah, sama itu juga bagaimana keluarga itu bisa memberikan rasa nyaman kepada anaknya, kalau ibu perhatikan memang pergaulan mereka, jadi bergaulnya sudah melampaui batas,” tutupnya.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan












