JURNALSUKABUMI.COM – Banjir lumpur melanda sejumlah rumah di Kampung Kuta Mekar, Kelurahan/ Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (22/10) malam.
Banjir lumpur disertai pasir dan material bebatuan itu diduga dipicu aktivitas proyek pembangunan perumahan yang berada di atas perkampungan tersebut. Banjir merendam rumah warga hingga ketinggian sepinggang orang dewasa.
“Ini akibat proyek di atas, pembangunan perumahan. Dampaknya rumah warga kebanjiran,” ujar Yandi, warga setempat, Minggu (23/10/2022).
Ia menyebut, kejadian lumpur merendam rumah warga bukan kali pertama. Sedikitnya, sudah terjadi tiga kali banjir.
“Barang-barang di rumah sudah hancur semua, ada batu kecil-kecil pasir semua ke pemukiman,” terangnya.
Ketua RT 03 RW 10, Andi Suhendi menjelaskan, pasca banjir ini pihak pengembang perumahan sudah mengetahui adanya kejadian itu. Pihak pengembang memberikan sejumlah uang kepada warga yang menurut Andi nilainya tidak sebanding dengan kerugian.
“Kejadiannya setiap hujan, di kampung saya banjir terus warga saya kasihan. Dari pihak perumahan cuma memberikan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu untuk penggantian kasur,” ucapnya.
Andi berharap pihak perumahan membuat saluran berukuran besar agar banjir tidak terulang lagi. Usulan ini kerap disuarakan warga namun diduga belum dilakukan pihak perusahaan.
“Harapan saya diperbaiki lagi bikin saluran air supaya enggak banjir lagi. Kalau enggak bikin saluran yang besar. Selain itu dampaknya kepada pendangkalan sungai, sungai jadi dangkal. Gara-gara material yang turun ke sini, ini kejadiannya yang ketiga kali tiap hujan,” keluhnya.
Di konfirmasi terpisah, Angga Project Manager PT Ratu Bangun Developer perumahan Pesona Farida Regency meminta maaf atas kejadian banjir yang berdampak kepada warga tersebut.
“Saya selaku perwakilan dari PT Ratu Bangun Developer Developer dari perumahan Pesona Farida pertama-tama saya ingin mengucapkan permohonan maaf terhadap warga khususnya RW 9 dan 10 yang terdampak. Ya sebenarnya kejadian ini suatu hal yang tidak kami inginkan ya karena memang kami dalam proses pembentukan danau retensi,” kata Angga.
Angga menyebut danau retensi dibuat, namun karena kondisi saat pembuatan hujan membuat kejadian yang menimpa warga tidak bisa dihindari.
“Karena memang dalam proses peruntukan kebetulan juga di bulan yang memang jadwalnya hujan kita juga apa namanya dalam proses pengerjaan jadi memang insyaallah besok kita mau adakan inspeksi untuk pengecekan dari korban dampak yang nanti akan mungkin nanti akan segera kita kasih ganti rugi ya kurang lebih seperti itu jadi apa namanya kira kira seperti itulah solusinya jawaban dari kami ya,” ungkapnya.
Ia mengaku pihaknya sudah menempuh perizinan termasuk perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
“Untuk izin AMDAL sih kita sudah ya pak, memang amdalnya sudah perizinan juga kita sudah lengkap memang kita perlu ada tambahan kolam retensi dan pembesaran saluran pembuangan ya sampai ke arah sungai pak kira kira seperti itu,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Mulvi Mohammad Noor






