JURNALSUKABUMI.COM – Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan, ada 20 desa di 10 kecamatan se-Kabupaten Sukabumi menjadi lokasi khusus (Lokus) penanganan stunting.
“Sejauh ini ada 20 desa di 10 kecamatan se-Kabupaten Sukabumi menjadi lokus (lokasi khusus) penanganan stunting. Seperti yang saya katakan tadi, penanganan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh Dinkes, tapi melibatkan hingga 20 perangkat daerah dan stakeholder yang ada,” kata Masykur, keoada jurnalsukabumi.com, Rabu (8/9/21).
Penanganan stunting di Kabupaten Sukabumi, sambung Masykur, sampai saat ini masih terus berjalan dengan melibatkan berbagi sektor. Berbagai inovasi pun dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting.
Menurutnya, penanganan stuntuing bukan hanya Dinkes saja. Intervensi dari Perangkat Daerah lainnya pun memiliki peran yang sama penting. Sehingga, satu sama lainnya saling bersinergi.
Inovasi yang telah dijalankan oleh Bidang Kesmas Dinkes, lanjut Masykur. Yakni, dengan memaksimalkan kinerja Kader Pembangunan Manusia di tingkat desa yang melakukan pendampingan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan program stunting ini. Adapun bentuk optimalisasi kader tersebut salah satunya melalui instrumen Scorecard.
“Scorecard itu formulir penilaian untuk menilai sasaran dalam hal ini ibu hamil dan anak dibawah dua tahun. Sehingga para kader ini bisa menentukan risiko terjadinya stunting,” ujarnya
Lanjut Masykur, Pemkab juga memiliki beberapa inovasi untuk mendukung penurunan stunting. Seperti, motor keliling dari Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) yang menjangkau seluruh desa yang ada.
“Sehingga mudah mendapatkan data kependudukan dan memberikan pelayanan kependudukan dengan cepat dan tepat. Juga dilakukan pengukuran kualitas air dalam PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) untuk membantu tumbuh kembang anak sehingga terhindar dari stunting,” jelasnya.
Reporter: Ruslan AG | Redaktur: FK Robbi












