JURNALSUKABUMI.COM – Menanggulangi penumpukan di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi harus ekstra berpikir dalam hal tersebut.
Seperti halnya program yang saat ini sedang dijalani di TPSA Cimenteng, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar. Penumpukan tersebut ditanggulangi dengan cara dibuatkan pupuk organik yang sebelumnya full dari limbah sampah yang bisa dijadikan pupuk.
Namun, setelah bekerjasama dengan pihak ketiga pupuk yang sepenuhnya dari limbah kini di campur dengan kotoran hewan, sekam ternak dan cairan EM-4 yang berwarna kecoklatan dan beraroma manis asam (segar).
“kalau dulu full sampah organik, tapi sekarang di campur kotoran hewan, sekam ternak, lalu sampah di campur aplikasi EM-4 dan dibiarkan membusuk sekitar 1 bulan,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Sukabumi Denis Eriska, melalui Koordinator Pengelola TPSA Cimenteng, Asep Sutriawan kepada jurnalsukabumi.com, Rabu (7/04/21).
Sambung dia, pupuk yang sudah di racik lalu di giling sampai menghasilkan butiran dan hasilnya pun sudah tidak berbau lagi. Setelah itu di kemas menggunakan karung berisi 20 kilogram.
“Pembuatan kompos sudah berjalan 5 tahun kebelakang, namun bekerjasama dengan pihak ketiga itu baru beberapa bulan ini,” terangnya.
Asep menjelaskan, pembuatan kompos sendiri bertujuan mengurangi daya tampung sampah di lokasi akhir. Sebab, dalam kurun satu hari pengiriman sampah yang masuk mencapai 170 ton.
“Harga dari hasil produksi ini hitungan nya perkilo hanya sepuluh ribu rupiah dengan kualitas sangat baik,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan






