JURNALSUKABUMI.COM – Kamis 14 Januari 2021. Umat muslim di Indonesia, bahkan dunia, kehilangan seorang pendakwah kharismatik yang toleran. Dia adalah Syekh Ali Jaber, pendakwah asal Madinah yang sudah lebih dari 12 tahun aktif berdakwah di Indonesia.
Syekh Ali pertama kali berdakwah di tanah air pada 2008. Sebelumnya, pendakwah kelahiran Madinah 3 Februari 1976 ini belajar agama dari sang ayah serta sejumlah ulama ternama di Arab Saudi.
Kompas menulis Syekh Ali sudah mampu menghapal 30 juz Alquran di usia 10 tahun. Bahkan Ia sudah dipercaya untuk menjadi imam di salah satu masjid di Kota Madinah saat usianya 13 tahun.
Masih di tahun 2008, Syekh Ali menikah dengan Umi Nadia, wanita asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari pernikahannya tersebut, Ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama Hasan.
Syeikh Ali dianugerahi kewarganegaraan Indonesia pada 2012 pada massa pemerintahan dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Saat itu, sosoknya sering muncul di televisi hingga menjadi juri salah satu acara kontes hafidz anak di salah satu stasiun tv swasta.
Syeikh Ali pernah mengungkapkan kebanggaannya menjadi WNI dalam postingan akun instagramnya Januari 2020 lalu. Saat itu, Ia dan keluarga mendapatkan passport hijau.
“Masyaallah Barakallah… Alhamdulillah. Menjadi sebuah kebahagian dan kebanggaan bagi kami beserta keluarga saat pengajuan menjadi Warga Negara Indonesia telah diterima,” tulisnya di akun instagram @syekh.alijaber.
“Saat ini passport sudah ditangan kami. Itu pertanda sah kami jadi WNI. Mohon bimbingannya dari jamaah sekalian supaya kami menjadi warga negara Indonesia yang baik dan bisa berkontribusi bagi agama bangsa dan negara. Aamiin. I love you INDONESIA,” kata Syeik Ali.
Sebagai ulama yang berasal dari Arab Saudi, negara yang kental dengan aliran Wahabi atau Islam Murni, Syekh Ali sangat toleran.
Kantor Berita Antara menuliskan bahwa Syekh Ali sangat menghargai sejumlah ritual keagamaan umat Muslim di Indonesia.
Salah satu contohnya terkait umat Islam di Indonesia yang mempraktikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia menghargai hal itu.
Syekh Ali juga tak mau gegabah menuding seseorang atau kelompok muslim telah melakukan bid’ah atau amalam yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Dala sebuah ceramah, Syek Ali pernah mengatakan penilaian itu seharusnya tidak disampaikan secara sembarangan.
“Antum dari ujung kepala sampai rambut bid’ah karena tidak ada di zaman nabi,” kalimat sindiran Syekh Ali soal ungkapan bid’ah dilansir dari Antara.
Redaktur: Mohammad Noor












