Melihat Produksi “Tahu Kuring” Sukabumi, Pengolahan Yang Terjamin Gunakan Wood Pelet

Minggu, 1 Maret 2020 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Produksi atau pengolahan tahu pada umumnya menggunakan kayu bakar dan plastik. Namun ada hal yang berbeda dengan produksi “Tahu Kuring” Sukabumi pengolahan yang higenis dan rasa yang berbeda menggunakan pembakaran terbarukan wood pelet.

“Memang kami menggunakan bahan bakar terbarukan yaitu wood pelet, hal ini memang berpengaruh besar pada hasil tahu tersebut,” ungkap pemilik “Tahu Kuring” Ali Rahman Alfarizi, yang berlokasi di Jalan Letda T Asmita Kampung Tonjong, Kelurahan Gedong Panjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Sabtu (29/02/20).

Menurut Ali, Wood Pellet ini merupakan olahan dari serpihan kayu pohon Kaliandra yang diolah menjadi bahan bakar berbentuk butiran-butiran mirip pil berukuran besar. Di mana, Wood Pelet ini sangat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan asap tebal yang menganggu polusi udara.

“Wood Pellet lebih irit dan pembakaran pun lebih cepat, selain pada kwalitas juga ramah lingkungan,” jelasnya.

Apalagi sambung dia, pembakaran yang dihasilkan tidak akan mengganggu pada kualitas tahu, sehingga tahu yang dihasilkan terjamin dari segi higenis dan rasanya.

“Bisa dicoba, apalagi “Tahu Kuring” yang kita buat memiliki kelembutan yang membuat lidah ingin terus mencicicpinya, dari segi keuntungan kita lebih hemat sekitar Rp4,5 juta perbulan,” ucap pria beristri Lia Awaliah, kepada jurnalsukabumi.com

Ditambahkan mahasiswa alumni Yogyakarta ini, memang tahu yang diproduksinya sendiri sudah mendapatkan legalitas halal dan resmi dari MUI, sehingga pihaknya menjamin rasa dan aromanya.

“Kami pun menggunakan bahan kunyit ini, langsung dari petani, sehingga terjamin kwalitas rasanya,” katanya.

Saat ditanya, bagaimana perkembangan usaha saat ini, memang kami sudah melakukan ekspansi ke wilayah Cianjur dan Bogor. Kalau Sukabumi sudah disebar dengan masuk ke pasar-pasar dan toko tradisional.

“Terkadang kami selalu kedatangan dari kampus IPB, UNPAD dan UGM yang menjadi tujuan penelitian dan pendidikan. Yang hasilnya semua kegiatan usaha kami memang beda dan terbarukan,” tandas lelaki beranak dua ini.

Reporter: Hendi
Redaktur: FK Robbi

Berita Terkait

25 Juli Jadi Penentu, Dua Kandidat Berebut Kursi Ketua KNPI Palabuhanratu
KNPI Minta Perusahaan Bersinergi, Tekan Pengangguran dengan Mengutamakan Tenaga Kerja Lokal Sukabumi
Kejar Target Presiden, Sukabumi Ubah Cara Bertani: Dari Sawah Konvensional ke Pertanian Modern
PLARA FEST 2026 Siap Hidupkan Palabuhanratu, 20 Sanggar Seni hingga Remember of Today Tampil
BPR Sukabumi Ingatkan Bahaya Bank Emok, Pinjaman Cepat Bisa Berujung Tercekik
Retribusi Rp7.500 per bulan, DLH Sukabumi Tegaskan Pengangkutan Sampah Harus Lewat MOU
IGD Baru RSUD Palabuhanratu Disiapkan, Layanan Darurat Sukabumi Ditarget Lebih Cepat dan Optimal
Jaga Terumbu Karang hingga Biota Laut, Indonesia Power Perkuat Komunitas PENYU

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 00:38 WIB

25 Juli Jadi Penentu, Dua Kandidat Berebut Kursi Ketua KNPI Palabuhanratu

Jumat, 24 Juli 2026 - 00:08 WIB

KNPI Minta Perusahaan Bersinergi, Tekan Pengangguran dengan Mengutamakan Tenaga Kerja Lokal Sukabumi

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:50 WIB

Kejar Target Presiden, Sukabumi Ubah Cara Bertani: Dari Sawah Konvensional ke Pertanian Modern

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:37 WIB

PLARA FEST 2026 Siap Hidupkan Palabuhanratu, 20 Sanggar Seni hingga Remember of Today Tampil

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:35 WIB

BPR Sukabumi Ingatkan Bahaya Bank Emok, Pinjaman Cepat Bisa Berujung Tercekik

Berita Terbaru