JURNALSUKABUMI.COM – Sebanyak 21 anggota Manja Rider Community (MRC) mengikuti perjalanan bertajuk MRC No One Knows dengan menjelajahi sejumlah kawasan di Sukabumi selama tiga hari, 18–20 September 2026.
Perjalanan yang diikuti peserta dari Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Depok tersebut bukan sekadar touring menggunakan sepeda motor. Rombongan merangkai pengalaman menjelajah alam, mengenal kehidupan masyarakat, menikmati kuliner lokal hingga beristirahat di kawasan pesisir Palabuhanratu.
Perjalanan dimulai dari Cibinong, Bogor, kemudian bergerak menuju wilayah Bogor Barat. Salah satu pengalaman menarik terjadi ketika rombongan harus menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu tradisional atau getek.
Motor-motor peserta dinaikkan ke atas rakit untuk menyeberangi sungai sebelum kembali melanjutkan perjalanan melewati jalur kampung, jembatan gantung hingga ruas jalan berbatu.
Setelah melewati Leuwiliang dan kawasan Kebun Teh Cianten, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabandungan. Di tengah perjalanan, mereka menyempatkan diri beristirahat, makan siang dan menunaikan salat Jumat.
Perjalanan kemudian diwarnai dengan mencicipi durian lokal yang disebut peserta sebagai Simas, Matahari dan Bawor lokal.
Ketua Manja Rider Community, Jihan Ibnu, mengatakan perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat persaudaraan antaranggota sekaligus mengenal berbagai destinasi yang mereka lewati.
Menurut Jihan, perjalanan bersama komunitas itu telah tumbuh sejak 2015. Awalnya hanya dilakukan bersama sang istri, Ericha Putri, kemudian melibatkan sepupunya, Wira Fernandez. Dari perjalanan kecil tersebut, MRC berkembang dan kini memiliki sekitar 40 anggota.
Berbagai wilayah telah menjadi tujuan perjalanan komunitas, mulai dari Bogor Barat, Cianten, Nirmala, Cikaniki, Citalahab, kawasan pesisir Banten, Pelabuhan Ratu, Ciletuh, Ujung Genteng hingga sejumlah wilayah di Cianjur dan Bandung.
“Perjalanan yang jauh dan medan yang sukar adalah cermin terbaik untuk memantulkan kepribadian dan ketulusan seorang teman yang sesungguhnya,” terangnya dikutip dalam catatan perjalanan MRC.
Menembus Malam Menuju Kasepuhan Gelaralam
Setelah tiba di kawasan Palabuhanratu menjelang magrib, perjalanan MRC belum berakhir. Rombongan melanjutkan etape menuju Gunung Bongkok hingga Kasepuhan Gelaralam.
Menurut catatan perjalanan Jihan, rombongan tiba di Gelaralam sekitar pukul 01.00 WIB, Sabtu (19/9/2026). Sebagian peserta bermalam di tempat Kang Yoyo, sementara sebagian lainnya menginap di Imah Gede.
Pada pagi harinya, peserta memanfaatkan waktu untuk melihat suasana Kasepuhan Gelaralam serta mengabadikan kebersamaan di kawasan tersebut.
Kunjungan itu juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal kehidupan masyarakat adat dan lingkungan kasepuhan. Rombongan tidak mengikuti prosesi Seren Taun karena harus melanjutkan perjalanan sesuai jadwal.
Setelah dari Gelaralam, rombongan bergerak kembali menuju Pelabuhan Ratu melalui Cipta Mulya dan Sinaresmi.
Bermalam di Bunga Ayu Seaside Resort
Setelah menempuh perjalanan panjang di kawasan pegunungan, rombongan kemudian menjadikan Bunga Ayu Seaside Resort di Palabuhanratu sebagai tempat beristirahat.
Untuk kebutuhan kelompok, MRC memesan dua vila dan tiga kamar. Malam kebersamaan diisi dengan makan bersama, di antaranya kambing guling, ikan blue marlin dan cumi jumbo, kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita serta karaoke.
Keesokan harinya, Minggu (20/9/2026), peserta menikmati sarapan di restoran resort sebelum turun ke kawasan pantai melalui akses yang tersedia.
Suasana pesisir menjadi penutup perjalanan setelah sebelumnya peserta melewati jalur sungai, pegunungan, kampung dan kawasan masyarakat adat.
Bagi MRC, rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas touring dapat sekaligus menjadi sarana mengenal potensi wisata dan ekonomi masyarakat setempat.
Setiap perjalanan menghadirkan kebutuhan seperti makanan, buah-buahan, tempat menginap dan berbagai layanan lainnya. Hal tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut mendapatkan manfaat dari aktivitas wisata berbasis komunitas.
Warung makan, penjual buah, penginapan, penyedia konsumsi, pemandu lokal hingga pelaku UMKM dapat menjadi bagian dari ekosistem perjalanan wisata apabila dikelola dan dipromosikan dengan baik.
Pulang Membawa Cerita
Sebelum kembali ke daerah masing-masing, rombongan mengabadikan kebersamaan di depan Bunga Ayu Seaside Resort.
Perjalanan pulang mengambil rute Palabuhanratu–Cikidang–Parungkuda–Caringin–Bogor, sebelum peserta berpisah menuju tempat tinggal masing-masing.
Selama tiga hari, MRC No One Knows menghadirkan pengalaman yang beragam. Mulai dari menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu, melewati jembatan gantung, menikmati kuliner dan durian lokal, menembus jalur pegunungan hingga bermalam di kawasan pesisir selatan Sukabumi.
Sukabumi pun tidak hanya menjadi satu titik tujuan, tetapi menjadi rangkaian perjalanan yang mempertemukan alam, budaya, kuliner, masyarakat dan sektor usaha lokal.
Bagi MRC, nama No One Knows boleh menyimpan kejutan. Namun, dari perjalanan tersebut ada satu hal yang mereka bawa pulang dengan pasti, yakni cerita tentang tempat-tempat yang layak dikenang serta persaudaraan yang terus dijaga.
“MRC, Huuuu Haaaa!!! Gaspolll, Tetap Satu Saudara!!!”
Redaktur: Ujang Herlan











