JURNALSUKABUMI.COM – Kebakaran hebat yang melanda Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya menghanguskan puluhan rumah warga. Musibah tersebut juga mengancam keberadaan stok pangan masyarakat adat yang selama ini tersimpan di leuit, lumbung padi khas Kasepuhan.
Pasca kebakaran yang terjadi Sabtu (25/7/2026), masyarakat Kasepuhan Ciptamulya bersama petugas gabungan mulai bergerak menyelamatkan sisa-sisa padi yang masih bisa digunakan. Sejak pagi, warga menyusuri sejumlah leuit yang menjadi tempat penyimpanan hasil panen masyarakat.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Simpenan, Dandi Sulaeman, mengatakan warga bersama petugas gabungan melakukan gotong royong untuk memindahkan padi yang masih dapat diselamatkan ke lokasi yang lebih aman.
“Masyarakat bersama petugas gabungan berjibaku memindahkan padi yang masih bisa diselamatkan pascakebakaran. Saat ini proses evakuasi masih dilakukan untuk mengamankan stok pangan yang tersisa,” ujar Dandi, Minggu (26/7/2026).
Salah satu perhatian utama tertuju pada Leuit Si Jimat, lumbung padi utama yang memiliki nilai penting bagi masyarakat adat Ciptamulya. Leuit tersebut selama ini bukan hanya tempat penyimpanan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi adat, termasuk digunakan dalam rangkaian kegiatan sakral Seren Taun.
P2BK Cisolok, Andri Firmansyah, menyebut kondisi sejumlah leuit cukup memprihatinkan setelah terdampak kebakaran. Bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh kini sebagian hanya menyisakan arang dan puing terbakar.
“Leuit yang sebelumnya berdiri kokoh kini ada yang hanya tersisa arang bekas kebakaran. Namun masih ada pocong-pocong padi yang tidak sepenuhnya terbakar dan masih bisa diselamatkan,” katanya.
Warga kemudian melakukan pemilahan secara manual, memisahkan padi yang masih layak disimpan dengan bagian yang sudah rusak akibat panas api.
Bagi masyarakat Kasepuhan Ciptamulya, leuit memiliki fungsi yang jauh lebih besar dibanding sekadar gudang penyimpanan. Lumbung padi menjadi sistem ketahanan pangan adat yang telah dipertahankan secara turun-temurun.
“Hampir setiap keluarga memiliki leuit sebagai cadangan pangan untuk kebutuhan sehari-hari maupun menghadapi kondisi sulit,” terangnya.
Kebakaran yang melanda kawasan adat tersebut membuat sebagian besar cadangan pangan warga ikut terdampak. Selain kehilangan tempat tinggal, masyarakat kini juga harus memastikan stok padi yang masih tersisa dapat diamankan agar kebutuhan pangan tetap terjaga.
“Hingga kini, proses penyelamatan padi dari leuit masih berlangsung. Warga bersama petugas terus melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah stok pangan yang berhasil diselamatkan dari musibah kebakaran yang menghanguskan rumah dan berdampak kepada 420 jiwa tersebut,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











