JURNALSUKABUMI.COM – Pantai Karang Hawu, Citepus, Cimaja, titik selancar Cilanca hingga Pantai Pangumbahan merupakan wajah pariwisata Kabupaten Sukabumi yang setiap akhir pekan dipadati wisatawan.
Namun, di balik tingginya kunjungan, masih banyak persoalan mendasar yang dinilai belum tertangani secara optimal.
Pengamat pariwisata, Juna Kartadipura, menilai sudah saatnya Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi mengubah pola kerja yang selama ini lebih banyak berorientasi pada administrasi menjadi pengelolaan yang benar-benar hadir di lapangan.
Menurutnya, destinasi wisata alam terbuka tidak cukup hanya dipromosikan melalui media sosial atau kegiatan seremonial. Kawasan tersebut membutuhkan pengawasan, edukasi, dan pendampingan secara langsung setiap hari.
“Objek wisata terbuka tidak memiliki pagar. Kalau tidak ada yang menjaga, maka sampah, vandalisme, kerusakan lingkungan, hingga persoalan keselamatan pengunjung akan terus berulang,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Juna menilai masih banyak persoalan yang mudah ditemui di sejumlah destinasi wisata, mulai dari sampah yang berserakan, fasilitas umum yang kurang terawat, hingga minimnya informasi bagi wisatawan mengenai kawasan yang mereka kunjungi.
Padahal, Sukabumi memiliki kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark yang seharusnya menjadi contoh pengelolaan destinasi berbasis konservasi dan edukasi.
“Sayang jika wisatawan hanya datang untuk berfoto lalu pulang tanpa memahami nilai geologi, budaya, maupun pentingnya menjaga lingkungan. Di sinilah peran petugas di lapangan sangat dibutuhkan,” katanya.
Juna mengusulkan agar pegawai Dinas Pariwisata dijadwalkan secara bergilir untuk bertugas di kawasan wisata strategis. Kehadiran mereka dinilai tidak hanya sebagai penjaga kawasan, tetapi juga menjadi pemandu informasi bagi wisatawan.
Petugas dapat memberikan edukasi mengenai kebersihan, mengingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan, menjaga vegetasi pantai, tidak merusak batuan alam, hingga membantu wisatawan yang membutuhkan informasi maupun pertolongan.
Selain itu, keberadaan petugas juga dinilai mampu menghidupkan kembali penerapan konsep Sapta Pesona yang selama ini menjadi dasar pembangunan pariwisata nasional, yakni Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan.
Menurutnya, alasan keterbatasan anggaran seharusnya tidak menjadi penghalang untuk meningkatkan kualitas pelayanan wisata.
“Tanpa membangun fasilitas baru pun, pemerintah sebenarnya sudah bisa meningkatkan kualitas destinasi melalui optimalisasi sumber daya manusia yang ada. Kehadiran petugas di lapangan merupakan solusi cepat, murah, dan berdampak langsung,” jelasnya.
Ia mengingatkan, apabila pengelolaan destinasi terbuka terus dilakukan secara pasif, bukan hanya kualitas lingkungan yang menurun, tetapi juga citra pariwisata Sukabumi sebagai daerah tujuan wisata unggulan akan ikut terdampak.
“Pariwisata tidak cukup hanya dipromosikan. Destinasi juga harus dijaga. Keindahan alam hanya akan bertahan jika ada orang yang merawatnya setiap hari,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











