Penulis: Jumaroh, S.E (Pengajar di Lembaga Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak (BiMBA) Karawang
Sudah menjadi hal yang wajar bahwa Ibu bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak.
Ternyata tugas mendidik itu bukan sepenuhnya tugas ibu, tetapi ada peran ayah yang juga sangat dibutuhkan dalam membangun karakter anak.
Sekarang ini banyak kasus yang seringkali berhubungan dengan anak-anak, baik dari bullying, pelecahan maupun depresi.
Ternyata faktor kurangnya peran ayah dalam keluarga untuk mendidik anak juga bisa menjadi pemicu.
Bukan hanya akan berdampak pada mental si anak, kepada para ibu juga akan merasakan dampaknya ketika kurang perhatian dari suami, sehingga melampiaskan kekecewaannya pada sang anak.
Baru-baru ini pemerintah memiliki rencana akan memberikan hak cuti ayah kepada ASN saat istrinya melahirkan. Karena sosok ayah memiliki peran penting pasca melahirkan dan sangat dibutuhkan untuk membantu proses tumbuh kembang anak. (Kompas, 14/03/2024)
Sejumlah negara dan perusahaan multi nasional sudah memberikan fasilitas tersebut seperti Spanyol, Korea Selatan, Jepang dan Islandia.
Dengan adanya pemberian hak cuti itu, diharapkan kualitas proses kelahiran anak bisa berjalan dengan baik. Apalagi fase itu penting untuk menyiapkan sumber daya manusia terbaik penerus bangsa. (IDNTimes, 14/03/2024)
Namun pada dasarnya bukan hanya soal memberikan hak cuti saat istrinya melahirkan, seorang suami juga sangat dibutuhkan sesuai perannya. Cuti ayah memang dibutuhkan, namun bukanlah solusi.
Beban hidup yang berat dalam sistem inilah yang membuat peran orang tua baik Ayah maupun Ibu tidak bisa dijalankan dengan baik.
Banyak peran suami yang akhirnya terbaikan, termasuk peran kebapakan. Yang sering dipahami tugas Ayah adalah menafkahi istri dan anak-anaknya saja.
Oleh karenanya, muncullah istilah Fatherless, yaitu ketiadaan peran ayah dalam mendidik anak.
Padahal Allah telah berfirman, ” Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan kalian mengkhianati amanat-amanat kalian, sedang kalian mengetahui. Ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian. Dan di sisi Allah ada pahala yang besar (Q.S. Al Anfal 27-28)
Anak adalah amanah yang harus dijaga sebaik mungkin, dididik dengan pendidikan yang baik pula.
Karena semua akan dipertanggungjawabkan kelak di Akhirat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
Selain itu peran masyarakat serta negara juga seharusnya menjadi peran pendukung yang turut serta dalam memperbaiki kualitas generasi.
Jika orang tua adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak di rumah, maka peran masyarakat dan negara dalam memfasilitasi dan memberikan kebijakan yang baik dalam berbagai bidang adalah tanggung jawab pendidikan di luar rumah.
Penerapan Sistem Islam lah yang niscaya akan membantu terbentuknya generasi yang berkualitas, beriman bertakwa dan serta berjiwa pemimpin.
Maka peran ayah akan optimal jika dikembalikan kepada syariat Islam, yaitu mengembalikan fungsinya, peran lingkungan dan yang krusial peran negara. Wallahua’lam (*).












