JURNALSUKABUMI.COM – Sebutan surga wisata tampaknya tepat disematkan untuk Grand Yustik sapaan populer Villa Yustik di Jalan Pondok Halimun Salabintana Sukabumi. Berada di lokasi strategis dengan menyuguhkan nuansa alam alami, tentu membuat pengunjung kian betah dan bikin berkesan.
Pengunjung disuguhi hamparan alam yang tak banyak dimiliki tempat wisata lain Di antaranya hunian pengunjung konsep tempo dulu, arena bermain anak juga ada bahkan untuk seminar atau pesta pun tersedia.Tempat renang dan camping ground siap dinikmati.

Di balik eksotiknya alam punya Villa Yustik, ternyata ada hal lain yang tak kalah serunya.Ternyata vila yang membuat orang betah dan nyaman saat dikunjungi ini namanya diambil dari gabungan pemilik vila tersebut.
“Yustik singkatan nama almarhum istri saya Iyus Ratna Dusesih sedang nama saya sendiri Atik,” ujar Atik Suardy Wirjasumita, Founder Grand Yustik, Minggu (30/09/2020).
Ia merupakan pendiri sekaligus pencetus ide usaha ini. Awalnya Atik berencana menyalurkan hobi bercocok tanam bunga dan sayur-mayur. Kala itu, dia kerap bolak balik Bandung – Ciamis menemui sang pacar Ny Iyus sambil mencari benih unggul.

“Berangkat dari hobi bercocok tanam bunga potong, waktu mau mengakhiri kuliah S2 kala pacaran dengan istri saya, almarhum asli Ciamis. Waktu itu tengah melaksanakan tesis di Pertambangan Mangan awal tahun 1962, sering jalan ke Lembang Bandung cari benih bunga potong di tanam di halaman rumah pacar di Ciamis,” kenangnya.
Namun, saat ity ada yang tumbuh, kebanyakan mati. Rupanya cuacanya kurang cocok untuk bunga potong seperti dahlia. Kala itu, sederet langkah menyalurkan hobi tanam bunga dan sayuran menjadi bahan ejekan teman-temannta. Wajar hasilnya bukan tambah segar malah makin layu.
“Untuk itu sesudah pensiun kami mencari lokasi yang cocok untuk tanam bunga potong untuk menyaurkan hobi yang belum tercapai. Mencari lahan dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Hingga akhirnya tempat inilah yang tepat, hingga muncul ide usaha jasa pariwisata,” beber suami alm. Iyus Ratna Dusesih ini.
Atik bercerita, menemukan lokasi ini hingga membuat ide atau gagasan usaha dibidang pariwisata usai mengikuti kegiatan bimbingan usaha oleh perusahaan tempat ia bekerja dulu. Kebetulan sebelum pensiun, perusahaan menyelenggarakan kursus pra purna bhakti.
Hasilnya, hobi dan gagasan pria jebolan ITB 1962 itu berhasil menjadikan usahanya berbuah manis. Grand Yustik sapaan akrab Villa Yustik menjadi incaran wisatawan. Di samping harga yang terjangkau, soal alamnya pun sungguh mempesona. Sejak 1933, dia menata lahan seluas 5 hektare itu, mulanya membangun sarana ibadah (mushola), akses jalan dan kolam ikan hingga kini menjelma sederet hunian vila, tempat seminar, weeding dan camping ground.
Reporter: Hendi | Redaktur: Ujang Herlan












