Oleh: M. Sulaeman Nur, S.Sos.I., M.Pd (Khadim Al-Masthuriyah Sekretaris PC LTM NU Kabupaten Sukabumi)
Sebagai hamba Allah baik rakyat dan pejabat, masyarakat sipil dan aparat, pimpinan lembaga, instansi, politisi, tua dan muda. Karyawan dan wirausahawan, santri, siswa dan mahasiswa, tokoh masyarakat dan agama serta seluruh komponen dan elemen bangsa
Manusia harus menghimpun amal kebajikan sebanyak mungkin untuk dipersembahkan kepada Allah SWT. Meskipun demikian, bukanlah amal itu yang menjadi andalan kita agar mendapatkan kebahagiaan dihadapan Allah. Sedangkan yang boleh menjadi andalan hanyalah Rahmat dan Ridha Allah SWT. Tentunya siapapun akan dapat, sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Di dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, sebagai pribadi muslim yang beriman kepada Allah SWT, maka patut untuk kita menjalankan 7 tahap amalan baik, sebagaimana yang termuat dalam intisari QS. Al-Faatihah, 1-7.
Di antaranya, ayat ke-1 Awali segala sesuatu aktifitas kita dengan selalu menyebut nama Allah SWT. Ayat ke-2 bersyukur dan kerja maksimal serta sanjungkan pujian hanya kepada Allah, dan selalu berterima kasih kepada siapapun yang pernah berbuat baik kepada kita.
Ayat ke-3, harus lebih baik dan tebar kasih. Perilaku dan akhlak kita harus lebih baik dari sebelumnya serta selalu menebarkan kasih sayang kepada sesama kita dimanapun kita berada. Ayat ke-4, orientasi harus jauh kedepan, yaitu negeri akhirat tapi tak melupakan kehidupan dunia karena dunia sebagai bekalnya.
Ayat ke-5, hidup ini adalah pengabdian pada Allah SWT. Tolonglah dan uruslah sesama, maka Allah akan menolong dan mengurus kita. Ayat ke-6, selalu berusaha dan berdo’a supaya tetap konsisten dan istiqamah, karena do’a merupakan senjatanya setiap muslim yang beriman kepada Alla SWT.
Ayat ke-7,tetaplah dalam bingkainya yaitu tetap dalam Islam-Iman-Ihsan. Jangan pernah mengingkari Allah SWT dan Rasul-Nya.
Jika kita sudah berusaha dan berdo’a, namun terimpit kegagalan, jangan berputus asa karena Allah akan memberikan segalanya kepada kita bukan atas apa yang kita inginkan tapi apa yang kita butuhkan.
Sebagaimana yang disampaikan oleh seorang Shufi terkenal dari Alexandria Mesir, Syeikh Ahmad Tajuddin bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah As-Sakandari (Penganut Madzhab Maliki dan Syafi’i): “Min ‘Alaamaati al-I’timaadi ‘alaa al-‘Amali Nuqshaanu ar-Rajaa’i ‘inda Wujuudi az-Zalali”. (Salah satu indikasi mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan dikala gagal).
Konsep beliau, segalanya harus ridha. Karena keridha-an dan keikhlasan terbagi kepada 3 bagian:(a). ‘Aabidiin, yaitu hamba Allah yang beraktifitas bebaikan menginginkan pahala dunia dan akhirat.(b). Muhibbiin, yaitu hamba Allah yang tidak perduli pahala dunia tapi leboh perfuliatas pahala akhirat. (c). ‘Aarifiin, yaitu hamba Allah yang sama sekali tidak perduli atas pahala dunia dan pahala akhirat. Karena, semata-mata segalanya hanya untuk Mardhaatillaah.
Jadilah pribadi muslim yang mu’min dan muhsin, wasilah mengamalkan seluruh komponen yang ada pada Surat Al-Faatihah, 1-7.












