JURNALSUKABUMI.COM – Sebanyak 70 unit Rumah Tahan Gempa (RTG) Riksa telah dibangun di wilayah Desa Lembursawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Namun hunian tetap (huntap) yang diperuntukkan bagi korban bencana belum diserahkanterimakan.
Desa Lembursawah ini merupakan salah satu wilayah terdampak bencana banjir dan tanah bergerak pada Rabu 4 Desember 2024.
Saat itu sebanyak 39 kecamatan dan 230 desa di Kabupaten Sukabumi terdampak bencana hidrometeorologi.
Ketua Forum Masyarakat Desa Lembursawah, Randi Firmansyah, mengungkapkan sebanyak 70 unit rumah sudah selesai dibangun, dan diperuntukkan bagi korban bencana dengan kategori rumah rusak berat.
“Tapi belum bisa ditempati karena belum ada pembayaran dari pihak pemerintah ke pihak kontraktor,” ungkap Randi kepada awak media selesai pertemuan di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi, Rabu (18/2/2026) sore.
“Saat ini hunian sementara (huntara) yang ada di lokasi pengungsian di lapangan sudah tidak layak huni,” sambung mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan.
Ia menjelaskan sebanyak 70 unit RTG Riksa dibangun di atas lahan milik Pemerintah Desa (Pemdes) Lembursawah seluas 5,2 hektar. Awalnya diajukan 292 unit rumah, namun dilaksanakan secara bertahap.
“Tahap awal ini rencana dibangun 170 unit, namun yang sudah selesai berjumlah 70 unit,” jelas Randi.
Ia sangat berharap kepada pemerintah agar secepatnya bisa memberikan solusi terbaik bagi ratusan warga korban bencana di Desa Lembursawah. Saat ini mereka menjalani kehidupan sehari-hari dalam kondisi yang tidak nyaman dan aman.
“Mewakili warga, kami sangat mengharapkan 70 unit rumah yang ada ini bisa dihuni, dan pemerintah segera melakukan pembayaran kepada kontraktornya,” harap Randi.
“Berikutnya, pembangunan huntap yang tersisa juga segera dibangun agar masyarakat kembali secepatnya dapat menjalani kehidupan yang nyaman dan aman.”
Salah seorang penyintas bencana, Yanti Susanti (52), mengakui saat ini tinggal bersama lima anggota keluarga kembali menempati rumah yang rusak dan miring. Sebelumnya sempat tinggal di lokasi pengungsian beberapa bulan.
“Ya mau gimana lagi, terpaksa kami menempati rumah yang sudah rusak, atap bocor, bangunannya miring. Tidur malam pun tidak nyenyak, khawatir bencana susulan,” tutur Yanti kepada awak media.
“Kami ingin secepatnya pemerintah mengeluarkan uang untuk 70 unit rumah yang sudah dibangun supaya kami bisa segera menempatinya,” harap dia.
Reporter: Budiyanto | Redaktur: Ujang Herlan











