JURNALSUKABUMI.COM – Kasus pengrusakan lingkungan dan pembalakan liar di lereng Gunung Halimun Salak, Desa/Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi kembali menjadi sorotan.
Wakil Bupati Sukabumi Andreas mengatakan pihaknya tidak membenarkan perusakan lahan di Gunung Salak Blok Cangkuang.
Ia menegaskan akan segera memetakan lokasi untuk menentukan statusnya, apakah masuk kawasan Kehutanan Gunung Salak atau Hak Guna Usaha.
“Kita pemerintah daerah untuk bertindak tegas jangan sampai ada yang merusak alam, sehingga nanti kalau misalkan bencana alam yang rugi kita semua,” tegasnya, Jumat (19/8/2025).
Sementara itu, Tim Advokasi Warga Cidahu dari Fraksi Rakyat, Rozak Daud, menuding adanya aktor-aktor tertentu di balik kasus pengrusakan lingkungan dan pembalakan liar di lereng Gunung Halimun Salak, Desa/Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi.
Kerusakan ini terjadi di lahan eks HGU (Hak Guna Usaha) PT Perbakti seluas 20 hektare yang seharusnya dilepas untuk masyarakat.
“Kami meyakini ada pihak yang merasa tanah itu sudah miliknya, padahal statusnya masih tanah negara. Mereka berlindung dengan dalih sebagai pemohon hak, lalu seenaknya merusak lahan. Ini jelas keserakahan,” tegas Rozak.
Ia menambahkan, perusakan lahan ini merupakan bukti nyata bahwa ada oknum yang bermain di atas status hukum tanah negara demi keuntungan pribadi.
Rozak mendesak agar lahan yang rusak tersebut tidak diserahkan kepada pihak-pihak yang rakus.
“Lebih baik jadi hutan rakyat, biarkan warga sekitar yang menjaga dan memelihara,” ujarnya.
“Kita ketahui bersama bahwa Blok Cangkuang ini merupakan sumber air warga Cidahu dan sekitarnya,” tambah dia.
Pembalakan liar yang masif telah menyebabkan bencana ekologis, seperti banjir bandang dan longsor, serta menurunnya debit air bersih bagi warga sekitar.
Tokoh masyarakat setempat, Rohadi, mengungkapkan, diperkirakan lebih dari 15.000 batang pohon telah ditebang. Dari sekitar 70 hektare hutan, hampir separuhnya kini dalam kondisi gundul.
Menurut Rohadi, kerusakan ini sudah menimbulkan dampak serius bagi warga di tiga desa yang bergantung pada aliran air dari Blok Cangkuang.
“Air yang dulu jernih, sekarang cepat keruh walau hanya hujan ringan. Kolam-kolam penampungan yang biasanya penuh, kini hanya terisi setengah,” ungkapnya.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan






