Oleh: Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd (Dosen dan Direktur Research And Literacy Institut (RLI))
Ramainya pemberitaan bahwa mahasiswa dari berbagai elemen akan adakan demo besar-besaran di beberapa kota di Indonesia, tentu bukan sesuatu yang ‘ujug-ujug” atau sekonyong-konyong. Ada yang melatarinya.
Lalu ada tudingan bahwa gerakan demonstrasi tersebut ditumpangi atau ditunggangi oleh kepentingan pihak tertentu pun, santer diberitakan. Bahkan dengan narasi yang penuh “drama”. Seakan-akan, demonstrasi besok tanggal 11 April 2022 secara otomatis akan melengserkan rezim yang berkuasa.
Kekhawatiran yang berlebihan ini ditambah dengan akan dilakukannya aksi pembubaran massa aksi oleh aparat keamanan. Dengan dalih tidak ada “izin”…
Adagium bahwa “saat mahasiswa turun ke jalan, yakinlah bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja”, akan menemukan momentumnya saat nanti aksi digelar.
Benarkah aksi besok itu penuh kepentingan, tidak lagi murni aspirasi mahasiswa, dan ditunggangi dgn pihak-pihak yang punya niat jahat kepada rezim?.
Entahlah…
Dari dulu juga aksi ke jalan, apalagi kalau mahasiswa yang demo, narasinya seperti itu…
Sebagai akademisi dan juga mantan aktivis, saya berharap bahwa kita jangan pernah punya sikap anti terhadap kritik. Pola pikir kita mesti bener dulu. Bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna. Bahwa kita saling mengisi. Kita punya kekurangan tertutupi oleh kelebihan orang lain. Begitupun sebaliknya.
Jangan pernah ada kebencian pada manusia. Sekecil apapun itu. Karena kebencian hanya akan membuat kita buta pada kebenaran.
Demonstrasi itu alat menyampaikan aspirasi dan hal ini sah dalam dunia demokrasi. Kenapa seakan tabu?
Yang penting, pendemo juga jangan kegenitan, jangan berlebihan, dan jangan sampai melampaui batas. Jangan sampai terjadi perusakan fasilitas umum, jaga kondusifitas, keluarkan kata-kata yang berNas. Hindari penyataan berbasis SARA.
Semoga warga negara Indonesia yang saat ini mendapatkan amanah kepemimpinan, bisa mendengar aspirasi yang lahir dari kegelisahan masyarakat yang disuarakan oleh mahasiswa dan elemen pendemo lainnya. (*).












