JURNALSUKABUMI.COM – Kepala Sekolah SMAN 1 Cisolok, Supyandi menyampaikan permohonan maaf dan mengaku khilaf atas menyebarnya video yang memperlihatkan kerumunan pelajar saat perayaan milad sekolahnya ke-22, Senin (1/11/2021).
Video tersebut menunjukan aksi joget para pelajar beserta guru itu diklarifikasi digelar secara spontanitas dan tidak berlangsung lama. Dijelaskannya, turut serta dirinya sebatas menghargai ajakan para siswa yang tengah merayakan hari ulang tahun sekolah.
Ditegaskannya, sebelum kegiatan dirinya sudah mewanti-wanti untuk semua peserta mematuhi protokol kesehatan (prokes) dengan ketat. Sebab, tiap hari pun prokes selalu jadi prioritas untuk melaksanakan semua aktivitas di sekolahnya.
“Mohon maaf, sebagai manusia saya ada khilafnya. Awalnya, saya menolak, namun karena situasinya spontanitas diajak para siswa, saya mengakui ikut dalam kerumunan. Hanya beberapa saat, lalu saya kembali lagi ke dalam bersama para komite sekolah,” aku Supyandi.
Akibat aksi spontanitas dan kekhilafannya itu, dirinya memenuhi panggilan Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Termasuk, tim Satgas Covid-19 Kecamatan Cisolok.
“Hasilnya, mulai besok kami disanksi selama dua minggu untuk tidak melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PKM) hingga menunggu hasil screening,” jelasnya.
Supyandi mengaku, kendati demikian para peserta didiknya sudah melaksanakan vaksin mencapai 90%. Bahkan, sudah digelar vaksin dosis kedua, termasuk para orangtua/wali siswa dan warga sekitar sekolah.
“Alhamdulilah, dari 1106 siswa, sekitar lebih dari 800 orang sudah divaksin. Sisanya, karena memang terkendala beberapa faktor, seperti tidak memenuhi persyaratan kesehatan sehingga belum diizinkan tim medis,” jelasnya.
Sementara itu, Pengurus PGRI Kabupaten Sukabumi sekaligus Kepsek SMAN I Cikakak, Didin Jamaludin menambahkan, turut prihatin atas kejadian tersebut. Bahkan, ia menilai apa yang ditonton dalam video itu jauh dari kepribadian asli sahabat seprofesinya itu.
“Saya yakin dan sangat paham karakter beliau. Selama bertahun-tahun kenal, belum pernah melihat dia joget. Dan saya rasa ini mungkin hanya hari nahasnya saja, karena sifat aslinya memang dia disiplin, selalu patuh dalam aturan sekolah dan aturan lainnya,” sambungnya.
Direktur Lembaga Analisa dan Transfaransi Sukabumi, Fery Permana ikut bersuara atas kejadian itu. Ia menilai, ini harus menjadi cerminan bagi sekolah-seklah lain agar tidak mengulangi kejadian serupa.
“Di sisi manusiawi, setelah lama tidak bertemu merupakan hal wajar euforia seperti itu. Hanya saja, di tengah pandemi saat ini sejatinya, acara-acara seperti itu harus dihindari,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan






