Oleh: Roy Tahsien
Direktur Sukabumi Research Center
Kecenderungan petahana tumbang lantaran para figur yang yang tampil sebagai penantangnya hari ini sudah saling mengetahui titik-titik kelemahan masing-masing.
“Pasangan Aman terbentuk atas dua spektrum, Adjo adalah mantan duet, sementara Iman Adinugraha adalah seteru abadi petahana.
Kemenangan petahana tahun 2014 lalu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Adjo Sardjono, kemudian kalkulasi lain suara Iman adinugraha juga besar. Bisa saja keuntungan itu diraup keduanya.
Faktor yang kedua sinyalemen petahana mulai rapuh secara politik terlihat dari kuatnya gelora perubahan menginginkan pemimpin baru.
“Silahkan uji dilapangan, hasil temuan internal kami popularitas petahana ternyata tidak linier dengan faktor elektablitasnya. Terbukti bahwa pasangan calon Aman itu lebih unggul”.
Kemudian berdasarkan riset karakteristik masyarakat sukabumi, mereka lebih tertarik pada calon yang mampu menyentuh sisi humanismenya. Selebihnya mereka akan memilih pemimpin yang jujur dan tidak korupsi.
“Kalau kita hitung semua variabel tersebut, maka figur Adjo Sardjono sangat mewakili keinginan masyarakat”.
Sementara kalau kita bicara tentang politik uang, tidak banyak membawa dampak positif.
Masyarakat sekarang sudah cerdas, bahkan ada yang lebih memberikan pelajaran bagi calon. Uang atau sembako diambil dan orangnya tidak dipilih, apa gak pusing?.
Jadi sejauh ini kami sangat optimis bisa menang, tapi juga tidak terlena karena pertarungan yang sesungguhnya sudah didepan mata. (*).












