Oleh : Arief Santoso
(Co-Founder Sukabumi Writer’s Community)
JURNALSUKABUMI.COM – Kebaikan adalah hal yang sering dianjurkan, tetapi sulit untuk dilakukan. Kebaikan merupakan hal yang timbul dari hati dan pikiran yang bersih, dimana jiwa akan ikut andil dalam pelaksanaan hal tersebut. Pada mulanya, kebaikan tidak harus dikatakan terlebih dahulu atau bisa dinamakan ikhlas, tetapi kita sering terjebak dalam hal kebaikan yang disisipi dengan kata ikhlas. Sering kita menghitung berapa pahala kebaikan, berapa timbal balik kebaikan bahkan sampai mereka-reka bagaimana bila banyak melakukan kebaikan. Menurut saya, salah satu kebaikan yang sulit dilakukan adalah melakukannya tanpa rencana.
Jadi, hanya berbuat dan berbuat, tanpa adanya kata-kata kecuali ‘Terima Kasih’ dan ‘Sama-sama’. Semudah itu sebenarnya, hanya saja kita sebagai manusia yang dilengkapi dengan akal, hawa nafsu dan ego, kemungkinan besar hawa nafsu dan ego lebih mendominasi akal dan nurani kita. Justru, itulah yang paling berbahaya.
Banyak orang di sekitar kita yang sering mengatakan bahwa mereka berbuat baik atas nama dan embel-embel yang ditujukan agar mereka terlihat baik, padahal tidak perlu seperti itu untuk berbuat baik, daripada kita terlalu anarkis menggunakan kata kebaikan yang disengaja, lebih baik kita tidak melakukan hal apapun kecuali melayani banyak orang untuk meringankan mereka.
Lho, itu kan sama saja kita ingin dianggap baik? Jawaban saya, hanya di center line posisi perbuatan kita, bisa saja prasangka baik dan buruk itu menjadi fifty-fifty karena kita tak mengatakan kebaikan dan hanya melakukannya. Sekarang, kita terlalu banyak menganjurkan, tetapi dalam pelaksanaannya belum semaksimal apa yang dilakukan orang-orang suci atau salafusshalih. Namun, itu sebanding daripada kita hanya mengatakan anjuran sampai dalil yang relevan.
Tapi, bagaimana bila kita ingin berbuat baik tanpa dianggap baik? Cara terbaik dan termudah untuk berbuat baik adalah lakukan dengan niat ibadah kepada Allah, lalu serahkan penilaiannya kepada Allah saja, biarkan Allah yang menentukan bahwa kebaikan kita ini diterima atau tidak, pasrahkan lalu ulangi. Seperti pengalaman orang-orang yang aku temui, ada yang mengatakan bahwa kebaikan tidak dikatakan kebaikan bila perbuatannya tidak dilandasi dengan keyakinan dan ibadah kepada Allah. Pernyataan yang saya tangkap ternyata terlalu tinggi untuk diikuti dan diamalkan, tetapi memang itulah hakikat kebaikan atau ahsanul ‘amal.
Adapula yang mengatakan bahwa jika kamu melakukan kebaikan, jangan sampai terlihat oleh siapapun. Kalimat ini terlihat seperti ingin menyatakan bahwa semua perbuatan baik tidak boleh dilihat oleh orang lain, tetapi kebaikan akan terpancar meskipun kita menyembunyikannya sedalam mungkin, karena kebaikan seperti cahaya yang memancar dari diri seseorang. Jadi, menurut saya untuk melakukan kebaikan adalah dengan niat yang tulus, pikiran yang jernih dan penjiwaan yang semata-mata ingin dekat dengan Allah lewat jalan kebaikan kita. Urusan kebaikan kita diterima atau tidak, biar Allah yang menentukan.
Satu hal yang tak boleh dilupakan dari pejuang kebaikan adalah jangan terpengaruh akan prasangka orang lain.
Sebaik apapun kita, bisa dianggap baik, sebaliknya keburukan apapun kita bisa dianggap baik. Lalu, bagaimana kita menyikapi prasangka yang berlalulalang di antara perbuatan kita? Cukup berterimakasih atas saran dan kritik, sikapi dengan positif dan doakan mereka agar mereka bisa berbuat seperti apa yang kita pancarkan kepada mereka.
Harapan dari berbuat baik adalah agar bisa memotivasi mereka untuk selalu berbuat baik, misalnya saja kita gemar menolong dan ramah dengan siapapun, timbal baliknya yang terasa ketika kita dalam kesusahan mereka berlomba-lomba untuk membantu kita. Bahkan dalam kitab suci Al Qur’an pun menyebutkan ‘berlomba-lombalah dalam hal kebaikan’, dimana kebaikan yang beragam ini bisa kita lakukan guna memperoleh ridho Allah dan kasih sayang-Nya.
Ada pepatah mengatakan, “Kebaikan bagai sungai yang airnya tak pernah bisa habis”, artinya kebaikan tidak akan pernah bisa berhenti jika kita melakukannya dengan istiqomah. Mulailah dari berbuat baik pada diri sendiri, kepada kerabat dan orangtua, kemudian dapat berlanjut kepada masyarakat dan kepada yang membutuhkan. Sepatah kata dari penulis, “Berbuat baiklah dengan diam, dan ucapkanlah kebaikan meskipun satu kalimat.”












