70 RTG Riksa Selesai Dibangun tapi Belum Dibayar Pemerintah, Korban Bencana Terkatung-katung

Jumat, 20 Februari 2026 - 03:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Sebanyak 70 unit Rumah Tahan Gempa (RTG) Riksa telah dibangun di wilayah Desa Lembursawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Namun hunian tetap (huntap) yang diperuntukkan bagi korban bencana belum diserahkanterimakan.

Desa Lembursawah ini merupakan salah satu wilayah terdampak bencana banjir dan tanah bergerak pada Rabu 4 Desember 2024.

Saat itu sebanyak 39 kecamatan dan 230 desa di Kabupaten Sukabumi terdampak bencana hidrometeorologi.

Ketua Forum Masyarakat Desa Lembursawah, Randi Firmansyah, mengungkapkan sebanyak 70 unit rumah sudah selesai dibangun, dan diperuntukkan bagi korban bencana dengan kategori rumah rusak berat.

“Tapi belum bisa ditempati karena belum ada pembayaran dari pihak pemerintah ke pihak kontraktor,” ungkap Randi kepada awak media selesai pertemuan di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi, Rabu (18/2/2026) sore.

“Saat ini hunian sementara (huntara) yang ada di lokasi pengungsian di lapangan sudah tidak layak huni,” sambung mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan.

Ia menjelaskan sebanyak 70 unit RTG Riksa dibangun di atas lahan milik Pemerintah Desa (Pemdes) Lembursawah seluas 5,2 hektar. Awalnya diajukan 292 unit rumah, namun dilaksanakan secara bertahap.

“Tahap awal ini rencana dibangun 170 unit, namun yang sudah selesai berjumlah 70 unit,” jelas Randi.

Ia sangat berharap kepada pemerintah agar secepatnya bisa memberikan solusi terbaik bagi ratusan warga korban bencana di Desa Lembursawah. Saat ini mereka menjalani kehidupan sehari-hari dalam kondisi yang tidak nyaman dan aman.

“Mewakili warga, kami sangat mengharapkan 70 unit rumah yang ada ini bisa dihuni, dan pemerintah segera melakukan pembayaran kepada kontraktornya,” harap Randi.

“Berikutnya, pembangunan huntap yang tersisa juga segera dibangun agar masyarakat kembali secepatnya dapat menjalani kehidupan yang nyaman dan aman.”

Salah seorang penyintas bencana, Yanti Susanti (52), mengakui saat ini tinggal bersama lima anggota keluarga kembali menempati rumah yang rusak dan miring. Sebelumnya sempat tinggal di lokasi pengungsian beberapa bulan.

“Ya mau gimana lagi, terpaksa kami menempati rumah yang sudah rusak, atap bocor, bangunannya miring. Tidur malam pun tidak nyenyak, khawatir bencana susulan,” tutur Yanti kepada awak media.

“Kami ingin secepatnya pemerintah mengeluarkan uang untuk 70 unit rumah yang sudah dibangun supaya kami bisa segera menempatinya,” harap dia.

Reporter: Budiyanto | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Dulu Lahan ini Sawah Subur dengan Aliran Air Melimpah, Kini Tinggal Padang Rumput
17 Tahun Irigasi Mati, Dinas PU Dinilai Gagal Menyelamatkan Pertanian di Cikadu Sukabumi 
Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bersama Hergun, 48 Pemenang Terima Hadiah
Memasuki Musim Kemarau, Petani Sukabumi Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Menyelamatkan Panen
Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Sukabumi, BPBD Pastikan Belum Ada Laporan Kerusakan
17 Tahun Irigasi Terbengkalai, Sawah Hilang, Warga Cikadu Gali Sumur di Bekas Saluran Air Demi Bertahan Hidup
Liburan Berubah Duka, Dua Pelajar Meninggal Terseret Ombak di Pantai Kapitol Sukabumi 
Resmi Dilantik, Kang Sule Kembali Pimpin SMSI Sukabumi Raya 2025–2028

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:53 WIB

Dulu Lahan ini Sawah Subur dengan Aliran Air Melimpah, Kini Tinggal Padang Rumput

Senin, 20 Juli 2026 - 21:23 WIB

17 Tahun Irigasi Mati, Dinas PU Dinilai Gagal Menyelamatkan Pertanian di Cikadu Sukabumi 

Senin, 20 Juli 2026 - 18:39 WIB

Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bersama Hergun, 48 Pemenang Terima Hadiah

Senin, 20 Juli 2026 - 15:54 WIB

Memasuki Musim Kemarau, Petani Sukabumi Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Menyelamatkan Panen

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:30 WIB

Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Sukabumi, BPBD Pastikan Belum Ada Laporan Kerusakan

Berita Terbaru