JURNALSUKABUMI.COM – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi terus memperkuat strategi ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
Salah satu wilayah yang menjadi tumpuan penguatan produksi pangan adalah Kecamatan Ciemas yang dinilai memiliki produktivitas padi di atas rata-rata Kabupaten Sukabumi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi, dr. Gatot Sugiharto, menyebut penguatan produksi pangan lokal menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus memperkuat kemandirian daerah.
Komitmen tersebut tercermin dalam kegiatan Gerakan Panen Padi di lahan Kelompok Tani Nanjung Tani, Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, yang dihadiri Bupati Sukabumi Asep Japar bersama jajaran Forkopimda.
Bupati Asep Japar mengatakan Kecamatan Ciemas kini menjadi salah satu kawasan strategis penyangga swasembada pangan di Kabupaten Sukabumi.
Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian yang mengantarkan Kabupaten Sukabumi meraih penghargaan nasional sebagai daerah peringkat kedua sektor pertanian dari Presiden RI menjadi bukti besarnya potensi daerah dalam mendukung ketahanan pangan.
“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pertanian dan para kelompok tani. Mudah-mudahan prestasi ini bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Data Dinas Pertanian menunjukkan kawasan Gapoktan Nanjung Tani memiliki luas baku sawah sekitar 492 hektare, dengan sekitar 200 hektare memasuki masa panen pada musim tanam tersebut.
Produktivitas padi di Kecamatan Ciemas bahkan mencapai rata-rata 6,2 ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata produksi Kabupaten Sukabumi yang berada di kisaran 5,2 ton per hektare. Capaian tersebut menjadi modal penting dalam menjaga pasokan beras daerah.
Bagi DKP, keberhasilan meningkatkan produksi tidak hanya berhenti pada panen, tetapi juga harus diikuti dengan penguatan distribusi dan penyerapan hasil pertanian masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sukabumi mendorong agar hasil panen petani lokal dapat menjadi pemasok kebutuhan beras untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh petani.
“Jangan sampai dapur MBG membeli beras dari luar daerah. Kita ingin hasil tani masyarakat bisa diserap di Sukabumi sendiri,” tegas Asep Japar.
Selain memperkuat penyerapan hasil panen, pemerintah juga berupaya mengurangi praktik penjualan gabah dengan sistem ijon yang dinilai masih merugikan petani.
Salah satu solusi yang didorong adalah pembentukan Koperasi Desa Merah Putih agar petani memiliki akses pemasaran dengan harga yang lebih stabil.
Penguatan ketahanan pangan juga dibarengi dengan perhatian terhadap infrastruktur pertanian, khususnya jaringan irigasi.
“Pemerintah meminta masyarakat ikut melaporkan saluran irigasi yang mengalami kerusakan agar dapat segera ditindaklanjuti,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











