Takbir dan Bedil Lodong dari Purwasari Menggema, Isyarat Dukungan ke Iran

Sabtu, 21 Maret 2026 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Malam takbir Idulfitri 1447 Hijriah di Kampung Purwasari, Desa Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, terasa berbeda. Di tengah gema takbir yang berkumandang, suara dentuman keras mengguncang malam bukan dari medan perang, melainkan dari tradisi bedil lodong, meriam bambu khas masyarakat Sunda.

Suara menggelegar itu bersahut-sahutan, memecah langit malam seperti irama pertempuran. Namun di balik dentuman yang menyerupai gelegar artileri, tersimpan makna kebersamaan, tradisi, dan semangat perayaan yang telah diwariskan turun-temurun.

Warga setempat bahkan berseloroh, dentuman bedil lodong itu seolah menjadi dukungan simbolik bagi Iran sebuah ungkapan hiperbolik yang mencerminkan keras dan dahsyatnya suara yang dihasilkan.

Bedil lodong merupakan permainan tradisional yang menggunakan batang bambu besar sebagai meriam sederhana. Ketika dinyalakan, suara yang dihasilkan mampu menggema hingga jarak jauh, menciptakan sensasi layaknya dentuman besar.

Di tangan warga Purwasari, tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari cara menyambut malam kemenangan.

Salah seorang tokoh setempat, Abah Ujang, menyebut bahwa tradisi ini telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat.

“Ini merupakan tradisi turun-temurun. Setiap malam takbir, warga berkumpul, membuat dan memainkan bedil lodong sebagai bentuk kegembiraan menyambut hari raya,” ujarnya Jumat malam (20/3/2026).

Di berbagai sudut kampung, gema takbir terus berkumandang, berpadu dengan dentuman bedil lodong yang mengguncang suasana malam. Kombinasi keduanya menciptakan atmosfer yang unik antara sakralnya ibadah dan semaraknya budaya lokal.

Bagi masyarakat Purwasari, tradisi ini bukan sekadar suara keras, melainkan simbol semangat kebersamaan dan identitas budaya yang tetap hidup di tengah modernisasi.

Meski terdengar seperti suara peperangan, warga menegaskan bahwa bedil lodong adalah ekspresi kegembiraan, bukan kekerasan.

“Tradisi ini justru menjadi perekat sosial yang mempertemukan berbagai generasi dalam satu momen penuh makna,” tambahnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan 

Berita Terkait

Musda MUI Sukabumi 2026, Wabup: Momentum Konsolidasi dan Evaluasi Kemaslahatan Umat
17 Tahun Irigasi Mati, Dinas PU Dinilai Gagal Menyelamatkan Pertanian di Cikadu Sukabumi 
Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bersama Hergun, 48 Pemenang Terima Hadiah
Tak Sekadar Naik Tingkat, Atlet Tarung Derajat Sukabumi Digembleng Bidik Porda Jabar
Memasuki Musim Kemarau, Petani Sukabumi Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Menyelamatkan Panen
Jembatan Garuda Suci di Cikembar Diresmikan, Ini Pesan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih! 
DLH Sukabumi Ungkap Pola Pengelolaan Sampah yang Benar, Pengangkutan Minimal Seminggu Sekali
DLH Sukabumi Bongkar Dugaan Pengelolaan Sampah Ilegal di Palabuhanratu

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:28 WIB

Musda MUI Sukabumi 2026, Wabup: Momentum Konsolidasi dan Evaluasi Kemaslahatan Umat

Senin, 20 Juli 2026 - 21:23 WIB

17 Tahun Irigasi Mati, Dinas PU Dinilai Gagal Menyelamatkan Pertanian di Cikadu Sukabumi 

Senin, 20 Juli 2026 - 15:56 WIB

Tak Sekadar Naik Tingkat, Atlet Tarung Derajat Sukabumi Digembleng Bidik Porda Jabar

Senin, 20 Juli 2026 - 15:54 WIB

Memasuki Musim Kemarau, Petani Sukabumi Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Menyelamatkan Panen

Senin, 20 Juli 2026 - 15:47 WIB

Jembatan Garuda Suci di Cikembar Diresmikan, Ini Pesan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih! 

Berita Terbaru