JURNALSUKABUMI.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya lokal melalui dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Ritual Adat Seren Taun ke-446 di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Minggu (13/7/2025).
Kepala Disbudpora, Yudi Mulyadi, yang turut hadir dalam acara tersebut, menegaskan bahwa Seren Taun bukan hanya ritual tahunan, melainkan warisan luhur yang mencerminkan kearifan lokal, ketahanan budaya, dan kekuatan spiritual masyarakat adat.
“Seren Taun adalah cermin identitas budaya kita yang telah bertahan selama ratusan tahun. Ini bagian dari tugas kami di Disbudpora untuk melestarikan dan memfasilitasi setiap bentuk budaya daerah sebagaimana diamanatkan dalam Perda Nomor 1 Tahun 2022 tentang Kemajuan Daerah,” ungkap Yudi.
Disbudpora, lanjutnya, terus menguatkan peran sebagai penggerak utama pelestarian seni dan budaya lokal, termasuk dalam memberikan dukungan pada kegiatan-kegiatan budaya strategis seperti Seren Taun.
Puncak acara ditandai dengan prosesi Ngampih Pare ka Leuit, yakni penyimpanan simbolik padi hasil panen ke dalam Leuit Si Jimat. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, yang menyampaikan bahwa Seren Taun merupakan bentuk syukur masyarakat adat kepada Sang Pencipta atas berkah panen dan kehidupan yang harmonis dengan alam.
Selain itu, berbagai rangkaian kegiatan adat dan seni budaya turut memeriahkan perayaan, mulai dari dogdog lojor, gondang buhun, tari tani, hingga pertunjukan rengkong dan karya seni generasi muda (incu putu).
“Dukungan terhadap seni-seni lokal ini penting sebagai upaya regenerasi budaya. Kami berharap sanggar-sanggar seni, sekolah-sekolah, dan generasi muda ikut aktif, karena pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama,” kata Yudi.
Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya atas pelestarian tradisi Seren Taun. Ia menyebut tradisi ini sebagai fondasi ketahanan nasional, yang mampu memperkuat nilai-nilai persatuan di tengah keberagaman budaya Indonesia.
“Saya kagum ketika melihat padi berusia lebih dari 90 tahun masih tersimpan di leuit. Ini bukan hanya soal tradisi, tapi juga bukti nyata kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan berkelanjutan,” ujar Andreas.
Ia bahkan menilai, pola hidup masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dalam mewujudkan kemandirian pangan, dan menyatakan bahwa kampung adat ini bisa menjadi model nasional dalam sistem pangan berbasis budaya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












