JURNALSUKABUMI.COM – Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, nampak kecewa atas minimnya partisipasi Sekolah Menengah Atas (SMA) terkait keikutsertaannya dalam upacara peringatan Hari Kesaksian Pancasila di Alun-alun Palabuhanratu, Minggu (1/10/2023).
Marwan Hamami menyebutkan perbedaan tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah sebagai salah satu faktor yang berperan dalam kurangnya kehadiran tersebut.
Apalagi, Hari Kesaksian Pancasila adalah momen penting untuk mengingatkan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi negara yang sah. Namun, ia merasa prihatin bahwa kebanyakan siswa SMA absen dari acara ini, dan mengevaluasi apakah undangan telah cukup sampai ke mereka atau tidak.
“Disayangkan ini yang datang tuh anak-anak kecil SMP yang memang perlu juga, anak-anak SMA kemana ini, yang tentunya apakah gak di undang, apakah hari Minggu, inilah akibat dari persoalan membedakan persoalan tanggung jawab pendidikan yang diatur oleh pemerintah pusat yang tidak nyambung,” ungkap Marwan Hamami.
Marwan Hamami menekankan bahwa keterlibatan SMA dalam peringatan semacam ini harus menjadi prioritas, meskipun ia menyadari bahwa kewenangan SMA berada di bawah pemerintah provinsi. Ia menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter dan kepribadian siswa di semua tingkat pendidikan, termasuk SMA.
“Jadi SMA hari ini tidak hadir karena dinas pendidikan itu bukan tidak berkepentingan, tidak bisa memerintahkan karena beban tanggung jawabnya ada di provinsi,” tegasnya.
Bupati Sukabumi mengungkapkan bahwa aturan yang mengatur kewenangan pendidikan telah mengubah dinamika antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Ini telah menyebabkan kepala sekolah SMA merasa bahwa mereka tidak berkewajiban untuk berpartisipasi dalam peringatan seperti Hari Kesaksian Pancasila.
“Padahal dalam pendidikan karakter, dalam pendidikan kepribadian anak itu, tidak bisa di pilah pilah. Hari ini anda bisa lihat, cek ke SMA, SMK itu seperti mereka pura pura tidak mau menerima pimpinan daerah, karena merasa tanggung jawabnya ada di provinsi,” cetusnya.
Marwan Hamami berpendapat bahwa upacara peringatan seperti ini tidak hanya untuk para peserta upacara itu sendiri, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memahami sejarah dan makna dari tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaksian Pancasila.
“Ini kesannya di upacarakan, harusnya kepala sekolah mikirnya sudah tidak lagi diperintah. Berarti kepala sekolahnya itu tidak bisa diandalkan untuk menjadikan hari kesaktian pancasila ini untuk memberikan pembelajaran,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Usep Mulyana






