JURNALSULABUMI.COM – Biola adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan cara digesek. Berbeda dengan alat musik lainnya, memainkan alat musik yang satu ini memang terbilang lebih rumit. Bahkan, banyak yang mengakui jika biola sebagai alat musik dengan tingkat kesulitan mempelajarinya tergolong paling tinggi.
Hal itu juga diakui gadis asal Kampung Pamatutan, Desa/Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bernama Bagea Awi Dan Heni saat berbincang-bincang bareng jurnalsukabumi.com, Rabu (04/01/2023).
Gadis yang saat ini duduk di bangku kelas XII salah satu SMA di Cicurug, itu mengakui jika belajar biola membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Iya lumayan sulit. Perlu konsentrasi tinggi karena kan gak ada grip seperti di gitar ya, jadi kalau jari kita geser satu milimeter aja, nadanya berubah. Harus pas banget,” kata gadis kelahiran 31 Agustus 2005 itu.
Diakui gadis yang akrab dipanggil Gea itu, ia sengaja ikut les privat dua kali dalam sepekan dan sudah berjalan dua tahun. Menurutnya, hal itu dilakukan agar ilmu yang diterimanya lebih terarah.
“Ini aja udah jalan hampir dua tahun. Walaupun guru aku mengakui terbilang cepat menangkap semua materi yang diajarkan, tapi Gea merasa masih jauh dari yang diharapkan,” jelasnya.
Ditambah gadis berkacamata itu, selain mempelajari teknik, ia juga kerap diajak tampil oleh gurunya dalam beberapa event.
“Iya senang kalau diajak, karena selain mengasah skill juga mental. Soalnya gak mudah juga tampil di depan banyak orang. Masih sering grogi aja,” kata sulung dari tiga anak perempuan bersaudara itu.
Bagea menambahkan, biola lebih dari sekadar alat musik, tapi juga telah menjadi semacam alat terapi yang memberi dampak positif terhadap dirinya.
“Karena tingkat kesulitannya yang lumayan tinggi ya, jadi kalau menurut Gea sih bagus untuk melatih kesabaran, ketelitian, fokus, sekaligus insting,” ungkap dia.
Lebih jauh, gadis yang juga sering membantu ayahnya berjualan kopi di kedai Sukakopi, Parungkuda, itu mengaku berharap bisa diterima di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam tes seleksi penerimaan mahasiswa baru yang akan diikutinya dalam beberapa bulan yang akan datang.
“Pengennya sih bisa diterima di Seni Musik Pertunjukan, ISI Yogyakarta, biar sejalan aja sama hobi Gea,” harapnya.
Diakuinya, ia tidak memiliki cita-cita tertentu harus menjadi apa atau harus bekerja apa. Bahkan, ia tidak memiliki target usia menikah atau profesi tertentu yang harus digelutinya.
“Gak ada sih, orang tua juga selalu bilang, kalau memang harus bekerja, ya kerja apapun yang penting halal. Pokoknya disuruh menikmati dan menjalani hidup aja, dan memberikan yang terbaik untuk diri sendiri,” tutup Bagea yang kini berusia 17 tahun itu.
Redaktur: Ujang Herlan












