JURNALSUKABUMI.COM – Bertugas sebagai Pendamping Desa di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, dengan topografi yang menantang tak sedikitpun menyurutkan semangat Tri Amelia Rahmi.
Lokasi tugas di pelosok yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Cibadak dan Cisaat ini menyimpan ragam kisah menarik baginya.
Di Hari Bakti Pendamping Desa yang biasa diperingati pada tanggal 7 Oktober ini, tantangan terberat baginya bukanlah pada tugasnya sebagai pendamping, tetapi lebih kepada menaklukan medan berat yang wajib dilewatinya setiap waktu.

Perempuan alumnus Pendidikian Ilmu Pemerintahan STISIP Widyapuri Mandiri ini mengaku, selama bertugas berbagai tantangan harus dihadapi. Salah satunya, dirinya harus berjuang untuk mengajar ke tempat yang jauh dari rumahnya hingga memakan waktu berjam-jam dengan menggunakan motor.
“Masih ingat waktu itu saat jadi pendamping dan menuju Kantor Desa Cimanggis. Saya sempat terjauh lantaran kondisi jalan yang sebagian besar masih beralaskan batu dan tanah. Ditambah, tengah musim hujan jadi sangat licin dan terjal,” ujarnya, Jumat (07/10/2022).
Tri Amelia Rahmi atau yang akrab disapa Amel ini mengisahkan, awal dirinya gabung menjadi Pendamping Desa pada 6 tahun silam ini memiliki keinginan yang kuat dalam memajukan desa. Khusunya, ingin membangkitkan kaum perempuan di desa untuk maju dalam berpikir dan berani dalam menyerukan pendapatnya, sehingga bisa mengabdi dan memajukan desanya sendiri.
“Dengan belajar dan niat tulus inilah saya dan para perempuan bisa melibatkan diri dalam pembangunan desa, sehingga perempuan di desa tidak tertinggal lagi. Seorang perempuan desa jadi tahu tentang Permendes dan APBDes dan tahu fungsinya untuk apa, jadi kita lebih berani mengungkapkan pendapat dan keinginan kita,” tegasnya.
Ia yang juga sebagai Sekretaris Karang Taruna Kecamatan Cicantayan ini menyampaikan, di peringatan tahun ini mengajak untuk menjadikan sebuah momentum, dedikasi dan Pendamping Desa itu ada di tengah-tengah masyarakat.
“Selamat Hari Bakti Pemdamping Desa. Mengawal pengentasan kemiskinana ektrem desa,” tutup Amel.
Redaktur: Ujang Herlan






