JURNALSUKABUMI.COM – Titik longsor tepatnya di Kampung Cisolempat RT. 12/04 Desa Sukakersa, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, kini kondisinya mulai mengancam akses jalan utama.
Informasinya, jarak titik longsor ke jalan yang merupakan akes penghubung Desa Sukakersa – Desa Sukatani itu diperkirakan hanya tinggal tiga meter lagi ke bahu jalan. Dikekhwatirkan terjadi longsor susulan apalagi memasuki musim penghujan akhir-akhir ini.
Selain jalan, sebelumnya akibat longsor itu juga mengakibatkan tiga rumah warga terbawa longsor dan dua rumah lainnya terancam. Bahkan, kondisi kelima rumah tersebut sudah tidak bisa ditempati.
Pasca peristiwa terjadi pada Oktober 2021 lalu, sejumlah aparat pemerintah baik desa, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) hingga pejabat daerah Sukabumi pun turut ke lokasi. Termasuk, kajian langsung dari Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral RI.
“Permohonan bantuan tembok penahan tanah (TPT) berikut rumah warga yang rusak dan terancam sudah kami sampaikan. Namun, sampai saat ini belum ada kejelasan,” tegas Kepala Desa Sukakersa, Deden Deni Wahyudin kepada jurnalsukabumi.com, Kamis (09/08/2022).
Bahkan, Ketua Umum DPC Apdesi Kabupaten Sukabumi periode 2020-2025 ini menilai, permohonan bantuan tersebut malah jadi bola pingpong pemerintah di atas.
“Saya coba tanyakan, bahkan didorong langsung Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, A. Yamin. Namun, jawaban Dinas PU itu merupakan kewenangan BPBD. Dan sebaliknya, BPBD pun mengatakan hal sama. Ya, kalau begitu ajuan bantuan ini seolah dilempar sana sini saja,” tegas Deden.
Ia berharap, bantuan rumah korban dan yang terancam segera direalisasikan. Termasuk, pembangunan TPT yang kini sudah mulai mengancam ke jalan utama.
“Kalau dibiarkan longsor tebing ini akan terus tergerus. Apalagi, akhir-akhir ini sudah memasuki musim penghujan,” paparnya.
Terpisah, Camat Parakansalak, H. Royani menambahkan, semua ajuan sudah diusulkan ke tingkat kabupaten, baik pada kesempatan pertama saat bencana maupun saat kunjungan pimpinan ke lokasi.
Untuk pembangunan TPT itu, kata dia, memerlukan dana tak sedikit. Sebab, panjang dan ketinggian titik longsor mencapai ratusan meter.
“Ya, kalau diestimasi biayanya mungkin bisa mencapai Rp 1 miliar. Kendalanya pada saat Covid-19 ketersediaan anggaran yang terbatas sehingga belum bisa dilaksanakan pembangunannya,” jelas H. Royani.
Salah satu korban pemilik rumah yang terbawa longsor Ade Saepuloh mengaku, sampai sejauh ini memang belum. Dan kondisinya kini masih numpang di saudara terdekat.
“Mudah-mudahan segera ada bantuan. Kemudian, TPT segera dibangun,” singkatnya.
Redaktur: Ujang Herlan












