Hergun: PPN Sembako Jalan Pintas Korbankan Rakyat Kecil

Sabtu, 12 Juni 2021 - 07:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Anggota Komisi XI dari Fraksi Gerindra DPR RI, Heri Gunawan angkat bicara soal rencana pemerintah mengenai dua jenis barang dan 11 jenis jasa dari daftar bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Legislator Senayan ini mengaku, hingga hari ini Komisi XI DPR RI sebagai mitra dari Menteri Keuangan belum menerima draft Revisi UU KUP dimaksud. RUU tentang perubahan kelima atas UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan masuk dalam daftar Prolegnas Prioritas 2021 dengan nomor urut 31 sebagai usulan dari Pemerintah.

“Kami masih dalam posisi menunggu Draft RUU dan Naskah Akademik dari Pemerintah. Mekanismenya, setelah pemerintah mengirim surpres RUU KUP kepada pimpinan DPR, maka pimpinan DPR akan membawanya ke Rapat Bamus,” ujar Heri Gunawan yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Fraksi Gerindra di Komisi XI DPR RI kepada jurnalsukabumi.com, Sabtu (12/06/2021).

Tidak sampai di sana, kemudian Bamus akan menetapkan alat kelengkapan yang akan membahasnya dan berkeyakinan Bamus akan menetapkan Komisi XI yang akan membahas RUU KUP bersama Pemerintah.

Namun, politisi yang memiliki panggilan beken Hergun ini melanjutkan, draft RUU KUP sudah tersebar ke publik. Hal ini perlu disikapi secara bijak oleh Pemerintah agar menjelaskan secara komprehensif tentang kedudukan draft tersebut. Sikap menghindar yang saat ini ditunjukkan oleh Pemerintah dikhawatirkan akan makin menyulut gelombang protes yang makin liar.

“Toh, dokumen tersebut masih sifatnya draft yang harus dibahas dan mendapatkan persetujuan dari DPR. Selama belum mendapat persetujuan DPR, draft tersebut belum memiliki kekuatan hukum yang mengikat,” jelasnya.

“Memang isu ini sangat sensitif karena menyangkut kebutuhan pokok rakyat dan waktunya yang tidak tepat dimana bangsa Indonesia masih dalam keterpurukan ekonomi akibat pandemi corona,” jelas Hergun yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi DPR-RI.

Infonya dalam draft yang tersebar di masyarakat tersebut, pada Pasal I angka 10 Pasal 44E RUU KUP mengeluarkan dua jenis barang dan 11 jenis jasa dari daftar bebas PPN. Sebelumnya jenis barang dan jasa tersebut tidak dikenakan PPN sebagaimana yang diatur dalam UU PPN Pasal 4A ayat (2) huruf a dan b dan ayat (3) huruf a, b, c, d, e, g, i, j, k, o, dan p.

Dua jenis barang yang dihapus sebagaimana yang termaktub dalam UU PPN Pasal 4A ayat 2 adalah (a) barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya dan (b) barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.

Dalam draf RUU KUP tersebut, pemerintah juga memutuskan untuk menghapus 11 jenis jasa layanan yang sebelumnya dikecualikan atas pemungutan PPN, salah satunya adalah jasa pendidikan atau sekolah.

“Selain pengenaan pajak sembako dan jasa pendidikan isu krusial lainnya dalam RUU KUP adalah soal Tax Amnesty jilid II dimana ‘katanya’ dalam RUU tersebut dijelaskan bahwa waktu pengungkapan harta mulai 1 Juli 2021 sampai dengan tanggal 31 Desember 2021. Sekarang sudah memasuki pertengah bulan Juni 2021. Kami di Komisi XI belum tahu draftnya apalagi menjadwalkan untuk membahas RUU KUP sehingga bisa disimpulkan draft RUU KUP yang tersebar ke publik tersebut patut dipertanyakan kebenarannya,” papar Hergun.

Masih kata dia, sejatinya masalah perpajakan di negeri ini sangat memperihatinkan. Setidaknya sudah 12 tahun realisasi pajak meleset dari target yang ditetapkan atau shortfall pajak.

“Kami memaklumi Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit karena untuk pembiayaan APBN 2021 atau 2022 tidak bisa terus-terusan mengandalkan utang. Rasio utang makin mendekati batas yang ditetapkan UU,” tegasnya.

Menyikapi hal itu kata Hergun, belum ada kebijakan yang final untuk dikeluarkan dan diimplementasikan ke masyarakat. Tidak mungkin pemerintah melakukan policy perpajakan tanpa didiskusikan dengan DPR. Namun, hendaknya upaya meningkatkan penerimaan pajak tetap harus memperhatikan kepentingan rakyat kecil.

“Sekali lagi kami tegaskan, Komisi XI menunggu draft resmi RUU KUP agar kami dapat melihat secara keseluruhan apakah fondasinya harus seperti ini?. Siapakah di dalam perpajakan yang harus bersama-sama disebut prinsip gotong royong? Siapa yang pantas untuk dipajaki secara lengkap berdasarkan sektor, dan pelaku ekonomi. Kami siap membahasnya dengan Pemerintah untuk mencari solusi perbaikan penerimaan pajak tanpa harus mengorbankan kepentingan rakyat kecil,” tandasnya.

Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Ratusan Massa Aksi PMII Kota Sukabumi Geruduk Balai Kota, Sampaikan 11 Tuntutan
Dampak Pembangunan Jalan Gudang di Kota Sukabumi, Sejumlah Toko Sepi dan Omzet Turun
Akses KA Menuju Sukabumi Terganggu, Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan
LSM Gapura Desak Kejari Periksa Proyek Air Minum ‘Bobrok’ di Caringin
Banjir Luapan Sungai Rendam 20 Rumah di Cibadak
Longsor di Sukalarang Sukabumi, Satu Warga Meninggal Dunia
Bupati Sukabumi dan Penasihat Presiden Resmikan Huntap untuk Korban Bencana
Arnold Herman Sama, Mahasiswa Nusa Putra University Menang Debut Tinju di Leindel Combat Sport Vol 2

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 16:24 WIB

Ratusan Massa Aksi PMII Kota Sukabumi Geruduk Balai Kota, Sampaikan 11 Tuntutan

Rabu, 22 April 2026 - 11:06 WIB

Dampak Pembangunan Jalan Gudang di Kota Sukabumi, Sejumlah Toko Sepi dan Omzet Turun

Senin, 20 April 2026 - 08:18 WIB

Akses KA Menuju Sukabumi Terganggu, Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan

Minggu, 19 April 2026 - 13:05 WIB

LSM Gapura Desak Kejari Periksa Proyek Air Minum ‘Bobrok’ di Caringin

Sabtu, 18 April 2026 - 20:57 WIB

Banjir Luapan Sungai Rendam 20 Rumah di Cibadak

Berita Terbaru

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777