JURNALSUKABUMI.COM – Perpustakaan Nasional (Perpusnas), menyebut perpustakaan digital di Indonesia saat ini masih terkendala, hal itu disebabkan lantaran tak semua daerah di Indonesia bisa terjangkau oleh internet.
“Kalau kita membaca melalui media elektronik biasanya butuh perangkat harus ada alat elektroniknya, listriknya, internetnya kalau kita bicara internet belum semua wilayah terjangkau atau kadang kadang terganggu” kata Kepala Perpunas Indonesia Muhammad Syarif Bando pada saat menggelar Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat Provinsi Kota dan Kabupaten di Auditorium Politeknik Sukabumi, Jum’at (06/11/20).
Selain itu, lanjuit Syarif Bando kendala lain yang dihadapi yaitu masih sulitnya membuat kata kunci dalam jumlah cukup banyak harus terhimpun dalam waktu singkat.
“Belum banyak dunia yang memproduksi buku elektronik yaitu buku yang bisa kita himpun kata kuncinya dalam waktu 20 menit 500 halaman itu buku elektronik memang mahal” ujarnya.
Ia juga menjelaskan tidak perlu membandingkan mana yang lebih baik anatar buku digital dan elktronik karena keduanya memiliki kelebihan masing masing. Pasalnya, Seluruh bahan dan sumber buku baik itu digital maupun elektronik diambil dari buku cetak.
“Media untuk membaca itu baik di laptop di handphone , komputer atau manual itu adalah cara, baik yang cetak maupun digital yang harus diketahui pula semua yang digital dan elektronik itu bahannya adalah buku cetak” jelasnya.
Ia juga mewajibkan seluruh perpustakaan untuk mempunyai karya cipta baik itu digital maupun fisik.
“Semua perpustakaan wajib menyediakan karya ciptanya, karya rekammnya, digital dan elektroniknya jadi sama saja” katanya.
Sementara itu dihubungi terpisah menurut Anggota DPR RI Komisi X Desi Ratnasari, mnengatakan pihaknya akan membantu mendorong perpustakaan digital di tengah digitalisasi yah semakin dibutuhkan.
“Tentunya kita mendorong percepatan terjadinya alih teknologi dalam hal ini adalah perpustakaan online yang bisa di akses secara digital dimana pun masyrakat berada khususnya bagi para pelajar yang harus bisa mengakses rujukan ilmu pengetahuan melalui buku yang disedikan oleh guru, tentunya ini harus gerak cepat,” ujarnya.
Selain itu Desy mengungkapan kebijakan terkait anggarannya pun akan didorong agar penyedian pasilitis diditalisasi literasi bisa cepat dinikmati oleh masyrakat di seluruh Indonesia.
“Kebijakan anggaran, yang merupakan perogram pertama utama dari legislatif bagaimana program ini harus menjadi program unggulan yang tentunya bisa menyerap anggaran bisa menghadirkan anggaran yang menjadi lebih besar lagi disetiap tahunya kemudian dimanfaatkan untuk masyarakat secara langsung,” pungkasnya.
Reporter : Rizky Miftah || Redaktur: FK Robbi












