JURNALSUKABUMI.COM – Kucuran keringat nampak jelas di jidat keriput Mak Emah (62) janda 11 anak asal Kampung/ Desa Cihelangtonggoh, RT 01/03, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.
Kerudung Coklat muda yang dipakainya pun terlihat mulai basah kuyup akibat keringat panas di bawah terik matahari pada waktu itu.
Dengan menenteng wadah makanan yang dilengkapi berbagai jenis hidangan lauk pauk segar pun terus ditawarkan dirinya ke setiap orang yang ditemuinya.
Bagi warga Kecamatan Cibadak, sosok Mak Emah atau Siti Fatimah ini mungkin sudah tidak asing lagi dan dikenal sebagai wanita perkasa, yang tak kenal lelah untuk terus berusaha menafkahi keluarganya lewat jualan makanan keliling.
Sesaat memulai obrolan singkat, sekaligus mencoba hidangan yang menggundang selera makan ini. Ternyata, sosok Mak Emah merupakan Janda 11 anak yang sudah lama ditinggal sang suami. Namun, berkat kegigihannya, Ia berhasil mengantarkan anaknya mengenyam bangku sekolah hingga perguruan tinggi.
Nampak jelas, perjuangannya dan niat tulus Mak Emah kian tak pernah surut. Meski, menjadi janda memang bukanlah hal yang mudah apalagi dengan keadaan ekonomi yang kurang mampu dan memiliki banyak tanggungan anak.
Tapi tidak bagi dia, menjadi sosok ayah sekaligus ibu demi menjadi tulang punggung keluarga yang harus menghidupi keluarga yang dipikul selama ini.
Sejak ditinggal sang suami, pada 2005 lalu Nenek yang lahir pada tahun 1958 ini berkenan berbagi cerita tentang suka-duka menjadi wanita yang memiliki dua peran. Di waktu istirahat dengan tetap menjajakan dagangannya, wanita yang sudah mulai keriput itu mengaku, harus tetap dapat menafkahi keluarganya.
“Hanya ini yang bisa saya perbuat untuk menafkahi keluarga. Berjualan makanan keliling dari rumah ke rumah dan dari kantor ke kantor,” ujar Mak Emah kepada jurnalsukabumi.com, Rabu (16/09/2020).
Mak Emah pun menyadari menjadi wanita dengan dua peran itu tidak mudah. Namun ia terus berupaya sekuat mungkin agar semua anaknya bisa tumbuh kembang seperti anak-anak lainnya yang masih memiliki kedua orang tua.
“Usaha dan berdoa tetap saya lakukan. Dari pada ngeluh, lebih baik saya jalani. Alhamdulillah anak-anak saya semua sekolah bahkan ada yang lulus perguruan tinggi,” imbuhnya.
Tekad itu lah yang membuat dirinya kuat dan tetap semangat menatap kehidupannya. Setiap harinya, ia harus menenteng makanan ke rumah-rumah warga dan perkantoran milik pemerintah dan swasta. Bahkan, di waktu dini hari, ia harus bangun dari tidur untuk pergi ke pasar. Pagi butanya, ia harus mulai jalan berjualan.
“Ya kalau dikatakan sedih, pasti sedih tentunya. Tapi harus bagaimana lagi. Saya harus bangun sebelum jam 04.00 WIB pergi ke pasar dan masak. Setelah beres, langsung berangkat jualan keliling,” terangnya.
Dari hasil berjualan kelilingnya itu, Mak Emah mengaku mendapat keuntungan tidak lebih dari Rp 100 ribu. Namun ia selalu menyisihkan untuk biaya rumah tangga dan kebutuhan anaknya.
“Dicukup-cukupkan saja. Yang penting ada buat anak-anak. Karena, tinggal dua anak lagi yang masih di bangku SMP. Semoga ada rezekinya,” paparnya.
Disinggung soal dampak covid-19, Mak Emah mengaku sangat merasakan dampaknya. Meskipun merasakan dampaknya, namun ia mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.
“Gak dihilangkan, Juli kemarin dapat Sembako. Setelah itu tidak ada lagi. Ya semoga saja ke depan ada rezeki buat saya dan keluarga,” pungkasnya.
Reporter: Ifan II Redaktur: Ujang Herlan











