JURNALSUKABUMI.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan insan pendidikan Kabupaten Sukabumi di kancah internasional. Dua guru SMPN 1 Sukaraja, Adila Irawan, M.Pd. dan Rahayu Utami, S.Pd., berhasil meraih Gold Medal (Grand Prize) dalam ajang International Mathematical Science Creative Competition (IMSCC) 2026 di Korea Selatan.
Keduanya tergabung dalam Tim Coix Squad yang sukses memperkenalkan inovasi bertajuk SMART HANJELI, sebuah konsep greenhouse adaptif berbasis teknologi yang mengangkat potensi tanaman lokal hanjeli (Coix lacryma-jobi) sebagai sumber inovasi pendidikan STEM.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia pendidikan Kabupaten Sukabumi. Tidak hanya membawa nama sekolah dan daerah, inovasi yang dikembangkan juga memperlihatkan bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi karya kreatif yang mampu bersaing di tingkat global.
Perjalanan menuju penghargaan tertinggi itu ternyata tidak diraih secara instan. Adila dan Rahayu mengungkapkan, proses pengembangan inovasi mereka telah dimulai sejak Juli 2026.
Saat itu, keduanya berkeinginan menghadirkan pembelajaran sains yang lebih menarik, aplikatif, serta mampu menghubungkan teori di ruang kelas dengan perkembangan teknologi dan kehidupan nyata.
Langkah awal mereka dimulai melalui pengembangan inovasi SMART CHLOROPLAST yang kemudian diikutsertakan dalam ajang ISTEMCC 2026.
Pada 16 Agustus 2026, karya tersebut berhasil menembus babak final yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Dalam kompetisi itu, Tim Coix Squad memperoleh Special Award kategori Capture Design Project.
Penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus melakukan evaluasi dan mengembangkan inovasi yang lebih kontekstual serta memiliki manfaat nyata.
Dari proses itulah kemudian lahir gagasan baru bernama SMART HANJELI, yang akhirnya mengantarkan mereka menuju kompetisi IMSCC 2026 di Korea Selatan.
Adila dan Rahayu memilih tanaman hanjeli karena merupakan salah satu potensi hayati lokal yang memiliki nilai dan menjadi bagian dari kekayaan alam kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi.
Melalui inovasi tersebut, keduanya ingin menunjukkan bahwa kekayaan lokal tidak hanya memiliki nilai budaya dan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan teknologi dan pendidikan.
SMART HANJELI dikembangkan dalam bentuk greenhouse adaptif dengan memadukan teknologi 4DFrame dan Embodied AI.
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengoptimalkan kondisi mikroklimat serta efisiensi penggunaan air bagi tanaman hanjeli.
Melalui konsep ini, peserta didik tidak hanya mempelajari teori pertumbuhan tanaman, tetapi juga terlibat langsung dalam proses mengamati, merancang, merakit, menguji, hingga memahami penerapan teknologi dalam menyelesaikan persoalan nyata di bidang pertanian.
Bagi keduanya, inovasi pendidikan harus mampu membawa pembelajaran keluar dari sekadar teori menuju pengalaman nyata yang bermakna.
Hadapi Tantangan Rekayasa hingga Persaingan Internasional
Di balik keberhasilan meraih Gold Medal, perjalanan Tim Coix Squad juga diwarnai berbagai tantangan.
Adila dan Rahayu mengungkapkan, salah satu kendala terbesar adalah proses rekayasa dan pengembangan prototipe. Mereka harus mengintegrasikan konstruksi 4DFrame, sensor, teknologi, sistem pemantauan, serta konsep pertanian ke dalam satu perangkat greenhouse adaptif.
Berbagai percobaan, pengujian, dan perbaikan harus dilakukan agar seluruh komponen dapat terintegrasi dan berfungsi dengan baik.
Tantangan lainnya adalah membagi waktu serta menyelaraskan pekerjaan masing-masing anggota tim. Di tengah kesibukan, Adila tengah menyelesaikan studi doktoral (S3), sementara Rahayu menempuh pendidikan magister (S2).
Kondisi tersebut menuntut komunikasi, koordinasi, dan komitmen yang kuat agar seluruh proses pengembangan inovasi tetap berjalan.
Tantangan semakin terasa ketika keduanya harus mempresentasikan karya di hadapan audiens internasional. Mereka dituntut mampu menjelaskan gagasan, proses pengembangan, keunggulan inovasi, hingga dampak SMART HANJELI secara ilmiah dan meyakinkan.
Namun, berbagai hambatan itu tidak membuat mereka menyerah.
Setiap kegagalan dalam percobaan dijadikan bahan evaluasi, perbedaan pendapat menjadi ruang menemukan solusi, sedangkan keterbatasan justru mendorong lahirnya kreativitas.
Hingga akhirnya, kerja keras, kolaborasi, doa, dan semangat seluruh anggota Coix Squad membuahkan hasil membanggakan dengan diraihnya Gold Medal (Grand Prize) IMSCC 2026 di Korea Selatan.
Bagi mereka, kemenangan bukan hanya ditentukan oleh hasil akhir, melainkan juga ketekunan, keberanian mencoba, kemampuan beradaptasi, serta kekuatan kolaborasi dalam menghadapi setiap tantangan.
Tim tersebut terdiri dari Adila Irawan, M.Pd. dan Rahayu Utami, S.Pd. dari SMPN 1 Sukaraja, serta Samsul Alam, M.Kom. dan Ferry Fabiansah, M.Kom. dari SMKN 1 Sagaranten.
Namun, dalam ajang internasional di Korea Selatan, hanya Adila dan Rahayu yang berkesempatan berangkat untuk mewakili tim. Sementara itu, Samsul dan Ferry tidak dapat hadir karena sejumlah kendala.
“Tim Coix Squad sebenarnya ada empat orang, yakni saya dan Bu Rahayu dari SMPN 1 Sukaraja, kemudian Pak Samsul Alam dan Pak Ferry Fabiansah dari SMKN 1 Sagaranten. Namun, yang berangkat ke Korea Selatan hanya kami berdua karena bapak-bapak tidak bisa berangkat lantaran berbagai hal. Saat lomba di Bandung sebelumnya, kami tampil dengan formasi lengkap atau full team,” ungkap Adila kepada jurnalsukabumi.com, Senin (2/11/2026).

Kepala SMPN 1 Sukaraja Apresiasi Prestasi Dua Guru
Kepala SMPN 1 Sukaraja, Siti Sa’adah, S.Pd., M.M.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas keberhasilan Adila Irawan dan Rahayu Utami yang berhasil meraih Gold Medal (Grand Prize) pada ajang IMSCC 2026 di Korea Selatan.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa guru tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik di ruang kelas, tetapi juga mampu melahirkan inovasi, mengembangkan kreativitas, serta menunjukkan kompetensi hingga tingkat internasional.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga dan bersyukur atas prestasi yang diraih oleh Ibu Adila Irawan dan Ibu Rahayu Utami. Ini merupakan pencapaian luar biasa yang tidak hanya membawa nama baik SMPN 1 Sukaraja, tetapi juga Kabupaten Sukabumi dan Indonesia di tingkat internasional,” ungkapnya dengan bangga.
Ia menilai, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras, dedikasi, kreativitas, serta semangat kolaborasi dalam mengembangkan inovasi pembelajaran.
“Yang paling membanggakan, inovasi SMART HANJELI mengangkat potensi lokal tanaman hanjeli yang dikembangkan melalui pendekatan teknologi dan pembelajaran STEM. Ini menunjukkan bahwa potensi yang ada di sekitar kita bisa menjadi sebuah karya inovatif yang memiliki daya saing global,” tuturnya.
Siti Sa’adah berharap, prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi seluruh tenaga pendidik di lingkungan SMPN 1 Sukaraja untuk terus meningkatkan kompetensi, berani berinovasi, dan tidak berhenti mengembangkan diri.
“Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya agar terus berkarya, berani mencoba hal baru, dan menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi dunia pendidikan. Sekolah tentu akan terus mendorong tumbuhnya kreativitas dan budaya berprestasi di kalangan pendidik maupun peserta didik,” tandasnya.
Redaktur: Ujang Herlan













Komentar