Politikus Pragmatis Bukti Bobroknya Sistem Demokrasi

Selasa, 31 Desember 2019 - 07:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Heni Andriani 
Pemerhati Umat & Member Akademi Menulis Kreatif

Menjadi politikus adalah impian bagi orang – orang yang memiliki berbagai ambisi kekuasaan dan harta. Bagaimana tidak menjadi politikus sesuatu yang dianggap “wah” bahkan bergengsi manakala sudah masuk di suatu partai berkuasa di negeri ini. Menduduki jabatan empuk dengan berbagai fasilitas mewah bukanlah sebuah keniscayaan lagi. Hampir semua kalangan mengincar jabatan ini tak peduli usia, pendidikan maupun latar belakangnya. Bahkan jargon-jargon untuk meraup suara rakyat terus didengungkan demi mencapai suatu tujuan. Sukses di jabatan legislatif, yudikatif ataupun jabatan empuk lainnya. 

Posisi bergengsi di suatu partai akan menentukan kesuksesan di masa depan. Saling sikut sana-sini bukanlah hal yang aneh bahkan dianggap biasa saja. Masuk dan keluar partai tertentu menjadi hal biasa saja atau istilah “kutu loncat” orang menyebutnya. Bahkan berbagai slogan dan janji manis diumbar demi sebuah tujuan yaitu berkuasa. Masyarakat Indonesia mayoritas Muslim oleh karena itu  mereka berlomba mendekati hati umat dengan mendekat ke para ulama dan ustaz sebagai kuncinya. Demi mendulang suara terbanyak. Tetapi anehnya justru ketika kegagalan dihadapi karena dicurangi mereka berbondong-bondong meninggalkan umat.

Kondisi ini terjadi pada masa  pilpres periode 2019 – 2024 antara kubu petahana 01 dan 02. Bahkan setelah ada panggilan dari istana, partai yang tadinya saling berseteru justru sekarang saling berpelukan seolah tidak terjadi apa-apa. Suara umat lenyaplah sudah. Umat Islam menelan pil pahit. 

Hal ini disebabkan karena partai politik yang ditunggangi tidak lagi mendongkrak kemenangan. Jualan surga dan neraka katanya tidak laku untuk meraih kesuksesan partai. Kepentingan, adalah tujuan mereka. Dalam alam demokrasi tak ada lawan abadi, tak ada kawan abadi, yang ada kepentinganlah yang abadi adalah sebuah kewajaran. Besok lawan hari ini menjadi teman.Kini  partai-partai itu menampakkan wajah aslinya. Mereka partai Islam sudah tidak ada bedanya dengan partai sekuler. 

Dilansir dari antaranews.com, Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menilai jualan surga neraka yang diterapkan saat Pemilu 2019 tidak relevan lagi, karena ternyata masyarakat lebih membutuhkan kebijakan yang berdampak luas.

“Belajar dari Pemilu 2019 yang sudah usai, ternyata publik tidak lagi membutuhkan jargon-jargon, tapi apa yang akan berdampak bagi kehidupan mereka” kata dia, di Padang.

“Jadi bukan jualan agama yang diharapkan, tapi apa kebijakan berdampak yang bisa ditawawrkan kepada masyarakat,”. “Buktinya ketika menjual isu penista agama tidak seiring dengan hasil pemilu, perolehan suara partai saya PAN malah di urutan ke delapan,” katanya lagi. Artinya kata dia, publik lebih memilih tawaran kebijakan yang berdampak langsung dan siapa yang menawarkan itu lebih mendapat dukungan. (antaranews.com, 09/12/2019)

Pernyataan pimpinan PAN ini menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi agama hanya menjadi aksesori untuk meraih dukungan suara umat. Saat suara partai tidak bisa terdongkrak dengan isu agama maka mereka mengubah wajah menyesuaikan dengan selera pasar yang semakin sekuler anti Islam. Umat hanya dijadikan tumbal semata. Hal ini menjadi bukti bahwa demokrasi hanya memikirkan kepentingan semata baik pribadi maupun kelompok/partainya.  Umat senantiasa jadi korban kerakusan para politikus yang haus kekuasaan. 

Demokrasi yang digaungkan sebagai sistem yang menampung aspirasi rakyat hanyalah bualan semata. Karena yang menentukan kemenangan adalah mereka yang memiliki modal. Sementara rakyat hanya menjadi objek penderita dan korban kekuasaan semata. Bahkan bagi siapapun yang mengoreksi kebijakan penguasa harus siap menghadapi kriminalisasi bahkan penjara seperti yang dihadapi oleh beberapa aktivis mahasiswa serta orang – orang yang peduli dengan bangsa juga negara ini. Entah sampai kapan korban akan terus berjatuhan demi memuaskan mereka yang berambisi kekuasaan dan politikus pragmatis ini berakhir? Masihkah kita percaya pada mereka  yang menghias wajah buruk demokrasi dengan aksesoris agama? 

Wajah buruk demokrasi semakin hari nampak nyata tidak pernah ada keselamatan antara konsep dan aplikasinya. Para politikus pragmatis pun lahir dari sistem buruk ini. Mereka berlomba meraup kekuasaan dengan berbagai jargon-jargon basi mengubah janji. Aturan Allah Swt diabaikan dan akal menjadi berhala bagi mereka. Demokrasi menjadi penuntun hidup mereka. 

Lain halnya dengan sistem Islam Sedangkan Islam agama yang komprehensif, tidak hanya mengatur urusan ukhrawi akan tetapi mengatur pula urusan duniawi. Dengan kata lain Islam mengatur segala aspek kehidupan yaitu, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya, dalam rangka untuk menjaga dan melindungi umat manusia bahkan alam dari kerusakan. Maka pada praktiknya umat dituntut untuk terikat terhadap aturan Islam (syariah) dalam aktivitasnya. Agama bukan menjadi tameng kekuasaan, tapi menjadi periayah umat, mengurusi urusan umat. Dan pemimpinlah yang bertanggung jawab atas kesejahteraan, keamanan, keadilan dan kehormatan umat. Sebagaimana hadis Rasulullah saw:

فَاْلإمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu‘aim).

Sedangkan partai di dalam Islam berfungsi untuk mengedukasi masyarakat agar memahami Islam dan mengarahkan pilihannya berdasarkan Islam. Fungsi yang lainnya adalah sebagai pemantau penguasa dalam menjalankan amanahnya.Kondisi umat yang tidak memberikan dukungannya terhadap Islam dan partai Islam adalah buah sistem sekuler dan absennya partai Islam dari mengedukasi Islam ke tengah umat.

Agar umat dan agama tidak lagi menjadi komoditas kekuasaan maka harus menjadikan agama Islam sebagai sistem yang mengatur manusia bermasyarakat dan bernegara, dan diterapkan secara totalitas (kaffah) bukan sebagai ibadah ritual belaka. 

Wallahu ‘alam bishshawab.

Berita Terkait

Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai Sumber Legitimasi Hukum Nasional: Kajian Filsafat Hukum dan Teori Kedaulatan
Di Mata Akademisi, Sosok Yandra Utama Pemuda Berani
Gizi Rakyat atau Gizi Oligarki?
Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi
Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak
Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa
Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas
Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:25 WIB

Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai Sumber Legitimasi Hukum Nasional: Kajian Filsafat Hukum dan Teori Kedaulatan

Minggu, 28 Juni 2026 - 20:46 WIB

Di Mata Akademisi, Sosok Yandra Utama Pemuda Berani

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:29 WIB

Gizi Rakyat atau Gizi Oligarki?

Senin, 1 Juni 2026 - 11:52 WIB

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:39 WIB

Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Berita Terbaru

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam