JURNALSUKABUMI.COM – Menjadi santri bukan berarti membatasi diri pada satu bidang keilmuan. Bagi Ajeng Kholifah, santriwati asal Kampung Cidahu Pasar, Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, pesantren justru menjadi ruang untuk menumbuhkan beragam potensi, mulai dari keagamaan, akademik, olahraga, seni, hingga kreativitas digital.
Lahir di Sukabumi pada 9 Desember 2007, Ajeng telah menjalani perjalanan pendidikan pesantren selama kurang lebih 13 tahun. Waktu yang panjang tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter, kedisiplinan, serta semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan diri.
Perjalanan pendidikannya melewati sejumlah lembaga, di antaranya SDN Tangkil, PPH Ummul Qura Bogor, MIS Al-Istiqamah, MI Babakanpari, SDN Lengis Bogor, Yayasan Al-Atiqiyyah, SMPIT Al-Atiqiyyah Boarding School, hingga Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat Tasikmalaya.
Setiap lingkungan pendidikan memberikan pengalaman tersendiri bagi Ajeng. Tidak hanya memperkaya pengetahuan, perjalanan tersebut juga mengajarkannya tentang arti ketekunan, tanggung jawab, dan keberanian untuk terus mencoba hal-hal baru.
Mengasah Ilmu, Menorehkan Prestasi
Bagi Ajeng, dunia pesantren bukan sekadar tempat memperdalam ilmu agama, melainkan juga ruang untuk mengasah kemampuan intelektual dan mengukir prestasi.
Ia mengembangkan potensi dalam berbagai bidang keagamaan dan akademik, seperti Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), kaligrafi, pidato, dakwah, cerdas cermat, serta sejumlah kompetisi keilmuan lainnya.
Pengalamannya juga mencakup kajian kitab kuning, Bahtsul Masail fikih, hingga simaan Alfiyyah Ibnu Malik yang terdiri atas 1.002 bait. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari prosesnya dalam memperdalam khazanah keilmuan Islam sekaligus melatih ketelitian, daya ingat, dan kemampuan memahami materi.
Beragam pengalaman itu memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan pesantren dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi muda untuk terus bertumbuh, baik dalam bidang keagamaan maupun akademik.
Dari Lapangan Olahraga hingga Panggung Seni
Di luar kegiatan belajar, Ajeng juga memiliki ketertarikan terhadap dunia olahraga. Bulu tangkis dan bola voli menjadi dua bidang yang pernah ia tekuni, selain minat terhadap renang dan berbagai aktivitas fisik lainnya.
Baginya, olahraga bukan semata-mata tentang kemenangan. Lebih dari itu, olahraga menjadi sarana untuk melatih sportivitas, kedisiplinan, ketangguhan, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain.
Ketertarikannya terhadap berbagai bidang tidak berhenti di sana. Ajeng juga mengembangkan minat dalam dunia seni, mulai dari melukis dan kaligrafi hingga musik.
Ia mengenal berbagai aktivitas musikal, seperti bermain piano dan drum, serta mengikuti kegiatan hadroh, marawis, dan marching band. Di samping itu, ia memiliki ketertarikan pada desain, fotografi, videografi, dan kreativitas digital.
Beragam minat tersebut menjadi ruang baginya untuk mengeksplorasi kemampuan, menuangkan gagasan, serta menghasilkan karya sesuai dengan potensi yang terus dikembangkan.
Bagi Ajeng, setiap bidang memiliki nilai pembelajaran tersendiri. Ilmu agama membentuk landasan moral, akademik memperluas wawasan, olahraga melatih ketangguhan, sementara seni membuka ruang untuk mengekspresikan kreativitas.
Memanfaatkan Dunia Digital untuk Menebar Inspirasi
Di tengah perkembangan teknologi, Ajeng juga mulai membangun pengalaman sebagai kreator konten dan influencer.
Ia melihat media digital sebagai peluang bagi generasi muda, termasuk santri, untuk menyampaikan gagasan, berbagi pengalaman, serta membangun komunikasi yang lebih luas dengan masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan pesantren. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas wawasan, mengembangkan kreativitas, dan menyebarkan pesan-pesan positif.
Dengan memadukan nilai-nilai pesantren dan pemanfaatan teknologi, Ajeng ingin menunjukkan bahwa santri juga memiliki ruang untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan identitas dan prinsip yang telah dipelajari.
Membawa Semangat Santri ke Kancah Internasional
Salah satu kesempatan penting dalam perjalanan Ajeng adalah diterimanya ia sebagai peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 7.
Agenda tersebut direncanakan berlangsung pada 25–30 November 2026 dengan rangkaian kegiatan di Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Bagi Ajeng, kesempatan ini menjadi motivasi untuk memperluas wawasan, mengenal lingkungan internasional, serta belajar dari pengalaman dan perspektif yang berbeda.
Keikutsertaannya diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperluas pengalaman sekaligus membawa semangat santri Indonesia ke ruang pergaulan yang lebih luas.
Kesempatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak berhenti di ruang kelas maupun lingkungan pesantren. Ada banyak hal yang dapat dipelajari melalui pertemuan, pertukaran gagasan, dan pengalaman lintas budaya.
Santri dengan Mimpi yang Terus Bertumbuh
Bagi Ajeng, perjalanan selama kurang lebih 13 tahun di dunia pesantren bukan sekadar tentang lamanya menuntut ilmu. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan proses untuk membangun karakter, mengenali potensi diri, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Ia ingin membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren dapat berjalan beriringan dengan prestasi akademik, olahraga, seni, serta perkembangan teknologi.
Ajeng juga berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya para santri, agar berani mengenali dan mengembangkan potensi diri tanpa merasa harus membatasi mimpi hanya pada satu bidang.
Menurutnya, setiap orang memiliki kemampuan yang dapat terus diasah. Dengan kemauan belajar, kedisiplinan, dan keberanian mengambil kesempatan, potensi tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Ke depan, Ajeng ingin terus bertumbuh menjadi generasi santri yang tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren, terbuka terhadap perkembangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Ia juga berharap setiap langkah yang ditempuh dapat membawa nama baik keluarga, pesantren, dan Kabupaten Sukabumi.
Kisah Ajeng menjadi gambaran bahwa santri memiliki kesempatan untuk berkembang dalam berbagai bidang. Berbekal ilmu, karakter, kreativitas, dan semangat untuk terus belajar, generasi muda pesantren dapat menyiapkan diri menghadapi masa depan sekaligus mengambil peran dalam kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.
Redaktur: Ujang Herlan













Komentar